Apa yang menyebabkan suatu perusahaan ragu – ragu untuk mengkomunikasikan produknya kedalam media online?. Oke, kita ilustrasikan sebagai berikut; suatu perusahaan besar/pemilik brand adalah seorang Ibu yang mempunyai seorang anak (produk) dengan nama yang unik (brand). Ibu mengerti sekali bagaimana merawat dan membesarkan anaknya dengan memperlakukan dengan cara yang berbeda, hal tersebut dilakukan karena anak2nya (brand differentiation) memiliki sifat yang beda (targeting). Ketika anak ini sudah menginjak remaja, seorang Ibu akan menyekolahkannya (menyewa brand konsultan), setelah anak ini beranjak dewasa, mereka telah siap untuk diuji ke dalam masyarakat (market) dan seterusnya.
Dalam konteks diatas menerangkan bahwa suatu perusahaan akan selalu menggunakan kekuatannya untuk membuat brand tersebut tetap terjaga dan terawat dengan baik. Untuk menjaga dan merawat brand tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit, karena menggunakan media offline, seperti media cetak, outdoor dan juga elektronik. Apalagi jika menerapkan Integrated Marketing Communication (IMC) yang semua lini dari hulu ke hilir digunakan. Hal ini menyebabkan pembengkakkan pada biaya yang dikeluarkan.
Dengan bertahun-tahun selalu menggunakan media offline, para pemilik brand tidak cepat merespon perkembangan yang terjadi, sedangkan perilaku konsumen selalu berubah setiap tahunnya. Apalagi dengan perkembangan media internet yang menghadirkan perilaku yang baru dengan adanya social media.
Apa yang menyebabkan perusahaan tidak mengambil kesempatan menggunakan social media, ada beberapa hal kecenderungan itu terjadi, disebabkan:
Anda (perusahaan) masih nyaman dengan media offline, jelas prosesnya, mengetahui biaya yang dikeluarkan serta dapat mengetahui dampak dari media ini untuk penjualannya;
Anda berasumsi bahwa media internet hanya sebatas pelengkap yang sama dengan media-media lainnya, perbedaannya hanya media ini bersifat online;
Anda menyadari ada perubahan perilaku konsumen bahwa social media sudah masuk kedalam kehidupan sehari-hari, seperti chat, update status, upload foto dan lain-lain, tetapi hal tersebut hanya dipahami sebatas trend sesaat;
Anda mengetahui adanya social media, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi pada social media. Komunitas tersebut sudah ada dan yang Anda lakukan hanya bisa mengarahkan, mempengaruhi dan mendukung komunitas tersebut;
Anda mungkin dengan mudahnya dapat mengeluarkan power untuk menciptakan komunitas baru, tetapi Anda tidak memikirkan bagaimana merawat selanjutnya. Yang harus dipahami adalah bahwa Anda tidak bisa menciptakan komunitas baru dengan cepat karena membangun komunitas memerlukan proses waktu dan tenaga;
Anda tidak dapat mengontrol mereka, mereka bebas bersuara, tidak ada aturan main didalamnya, mereka sendiri yang menciptakan aturan tersebut, tetapi yang bisa Anda lakukan adalah berkomunikasi dan merespon mereka dengan cepat.
Anda tidak dapat memaksa mereka menelan mentah-mentah pesan Anda, seperti halnya yang telah Anda sering lakukan oada media offline (komunikasi satu arah), karena perubahan di media internet sudah menggunakan teknologi web 2.0 (komunikasi 2 arah);
Anda hanya bisa mendengarkan, belajar dari perilaku mereka dan mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan inginkan, seperti tips dan trik: Mencari Customer Insight via Twitter.
Sebelum terjun ke media online, yang harus Anda persiapkan adalah sumber daya manusia serta strategi yang selalu diupdate supaya tidak hilang begitu saja. Contoh sukses dalam memanfaatkan teknologi web 2.0 ini adalah Dell dan Starbuck. Dell menciptakan komunikasi 2 arah untuk mencari insight dan berkomunikasi langsung dengan konsumen yang melahirkan IdeaStorm. Sedangkan Starbuck menciptakan strategi komunikasi 2 arah ini dengan menggabungkan media offline dan online dalam merawat brandnya dengan strategi marketing onlinenya dengan menciptkan My Starbuck Idea. Coca Cola pun juga ikut berpartisipasi, check presentasi ini, Coca-Cola: ‘Fans First’ Approach in Social Communities. Begitu juga dengan BurgerKing menggunakan social media, seperti YouTube, Facebook dan Website. Oke, selanjutnya kembali ke perusahaan Anda, apakah perusahaan Anda siap untuk hadir di social media? Tidak salah mencoba daripada tidak sama sekali
Sesuai dengan subjek diatas, bahwa page ini untuk para pengembang web aplikasi. Referensi software ini untuk para developer yang ingin mengembangkan web aplikasi Social Networking. Koprol adalah satu karya anak bangsa yang menciptakan social networking.
Dibawah ini software aplikasi untuk membuat social networking.
Dalam mencari customer insight yang biasa kita gunakan adalah melalui pendekatan research Quantitative dan Qualitative berdasarkan data, ada juga dengan pendekatan secara perilaku konsumen setiap harinya dengan menggunakan metode Ethnography dan Netnography. Mencari insight menggunakan metode Ethnography dan Netnography sangatlah unik dan sangat menyenangkan, research ini mengkolaborasikan hasil data dengan persepsi, perilaku dan kebiasaan konsumen setiap harinya. Ilmu tentang Ethnography ini saya pernah dapati sewaktu kuliah S2 di Binus Business School oleh Pakar Ethnography di Indonesia, Amalia Maulana. Sedangkan pada Netnography mencari customer insight menggunakan media internet.
Sebelum mengarah ke objek pembahasan, sebelumnya kami menjelaskan dengan singkat tentang microblogging terlebih dahulu. Microblogging sama halnya dengan penggunaan short message service (SMS), tetapi microblogging ini hanya ada di Internet, bebas biaya dan setiap orang dapat melihatnya. Twitter merupakan microblogging yang sangat populer sekarang ini. Penggunaan Twitter di Indonesia sangatlah berbeda dengan penggunaan Twitter di luar Indonesia. Twitter di luar Indonesia digunakan sebagai sharing informasi secara real time, informasi tersebut bisa berupa berita yang update, issue yang terjadi, teknologi yang sedang berkembang dan lain-lain yang disampaikan melalui 140 karakter. Sedangkan penggunaan Twitter di Indonesia hanya sebatas status update yang sama hal dengan status yang ada di Facebook.
Banyak hal – hal yang tidak penting dituangkan kedalam status update pada Twitter, dari kebiasaan, memberikan informasi, curhat, gosip dan lain-lain (campur aduk). Hal tersebut dapat kita manfaatkan untuk mencari customer insight menggunakan media tools ini. Yang terpenting dalam mencari customer insight melalui media tools ini adalah apa-apa saja yang ingin diambil dan diolah dari data yang akan dicari, misal; mencari persepsi konsumen tentang product dengan brand A, atau mencari brand awareness saja, atau mencari tahu perilaku atau kebiasaan konsumen dan lain-lain (tentukan objectivenya).
Twitter Search adalah suatu tools untuk mencari kata kunci secara real time, Dibawah ini hasil pencarian dengan kata kunci Indomie dengan menggunakan fasilitas tersebut. (penggunaan brand Indomie hanya untuk sample).
Sedangkan jika menggunakan fasilitas Google Search, akan menghasilkan pendekatan yang berbeda, seperti contoh dibawah ini.
Dari contoh diatas, terlihat bahwa Twitter sangat powerful dibandingkan dengan mencari insight di Google Search, tetapi tidak menutup kemungkinan Google Search juga bermanfaat. Oke, kita kembali ke topic, cara mencari insight menggunakan Twitter adalah, mengumpulkan opini dari users, sesudah mendapatkan opini dari users, selanjutnya dikumpulkan terlebih dahulu dan selanjutnya diklasifikasikan menjadi beberapa kategori. Setiap kategori dikelompokkan lagi menjadi 2 kategori plus minus, yaitu Advantages dan Disadvantages. Setelah mengetahui plus dan minusnya, analisis juga competitornya dari indirect dan direct competitor, sesuaikan dengan strategi marketingnya, hubungkan dengan brand activation, kolaborasikan dengan media offline dan online, dan lain-lain.
Dibawah ini hanya beberapa sample dari custumer insight pada Indomie; @adisthiew: indomie goreng pedas telor sosis goreng tabur keju cabe rawit.. sadisnya dirimu menari nari diotakku –> ada peluang untuk membuat Indomie dengan aneka rasa pedas dengan bahan yang alami seperti cabe @IndraPrananda: Sarapan pake indomie kari ayam plus telor, maknyozzzz ) –> sarapan dengan Indomie (perilaku konsumen) @PrissyWaworuntu: Terbangun karna harumnya indomie goreng,, tambah nikmat karna dimasakin suami tercinta –> persepsi konsumen @sipirilla: Ya Tuhan, bau indomie goreng sama indomie kuah itu benar-benar menggoyahkan iman saya –> ini mah lebay ya
Mungkin diatas dapat membantu, jika ada yang kurang jelas akan disambung diepisode selanjutnya, cause it’s time to work!. Ciayoo
Pernahkah Anda mengalami situasi seperti ini; pindah tab dibrowser hanya untuk melihat status Facebook, pindah tab lagi untuk melihat status Twitter, pindah tab lagi untuk melihat email. Hal tersebut sering terjadi bukan?. Bagaimana jika Facebook, Twitter dan Buzz digabung menjadi satu tampilan saja. Solusinya sangat mudah untuk membuat Gmail Anda terintegrasi dengan social media. Langkah mudahnya dapat dijelaskan dibawah ini:
Kabar gembira untuk yang Flash Minded, included me , dari sekian lama dengan berkutatnya peperangan antar mobile device dan aplikasi social media di online, akhirnya Adobe mengumumkan bahwa produknya akan mengeluarkan Adobe Flash CS 5 yang dapat terintegrasi dengan mobile apps. Salah satunya produk Adobe sudah dapat digunakan di mobile device seperti Android dan iPhone, yaitu Adobe Air yang menggunakan Flash Player 10.1. Google pun secara bisnis menjadi partner dari produk Adobe ini, seperti pada YouTube yang menggunakan teknologi Flash untuk videonya.
Setelah Steve Job mengeluarkan statement, Google Mantra ‘Don’t be evil’ is bullshit dan juga Adobe Flash is Lazy, the world is moving to HTML 5 pada saat launching iPad. Keesokan harinya Google memberikan informasi bahwa produk Google seperti Chrome sudah dapat mengimplementasikan HTML 5. Dan juga Adobe Flash mengumumkan bahwa teknologi Flash dapat diimplementasikan kedalam mobile device.
Untuk para developer yang sering membuat animasi / aplikasi menggunakan Flash dapat berkunjung di blog gotoAndLearn() untuk sebagai mencari referensi, tips dan trick tentang produk Flash ini. Jika ingin mengetahui dan mengetahui secara lebih jelas untuk memaksimalkan Flash pada mobilephone dapat dilihat pada Optimizing Mobile Content for the the Flash Platform.
Bunyi beep di Blackberry berbunyi, menandakan ada suatu pesan atau chat yang masuk kedalam Blackberry Anda. Ketika pesan itu dibuka, Anda merasa jengkel dengan pesan tersebut. Dikarenakan pesan tersebut berasal direct message dari Facebook yang berisi sebuah iklan / promosi / informasi produk yang dikirimkan secara personal ataupun serentak dan Anda sendiri pun tidak mengenal yang mengirimkan pesan tersebut. Apa yang Anda lakukan terhadap pesan tersebut?
Apakah langsung membuang pesan tersebut?
Apakah didiamkan saja hingga mengotori ruang box pesan Anda?
Apakah Anda membalas dengan antusias?
Apakah Anda mengirim kembali pesan tersebut dan memberitahukan bahwa untuk tidak mengirimkan kembali pesan tersebut?
Jika dilihat dari fungsi pesan yang ada di Facebook, pada dasarnya sama halnya dengan pesan email. Tetapi fungsi dasar pada pesan di Facebook adalah suatu tools untuk mengirimkan pesan kepada relasi / orang yang kita kenal tanpa harus membuka account email Anda. Oke, mari kita diskusikan dan kita tuangkan dalam kasus dibawah ini.
Perilaku user online ‘berjualan’ menggunakan email Mini Case 1: Jika Anda memiliki milis/forum dan Anda sering mendapat pesan melalui email dengan subject: WTS: Produk A Harga Promo. Didalam pesan tersebut berisikan spesifikasi, harga dan diikuti dengan kalimat ‘jika tertarik via japri (jalur pribadi)’. Pasti Anda tahu betul bagaimana menanggapinya untuk proses selanjutnya. Jika tertarik dengan produk tersebut maka akan memulai komunikasinya melalui japri/direct message setelah itu tukar-tukaran nomor telephone dan akhir berlanjut bertemu untuk melihat dan bertransaksi.
Mini Case 2: Saat ini Facebook bukan saja hanya sebagai mencari teman, bernostalgia, CLBK, reunion, main games dan lain-lain, tetapi Facebook sudah dijadikan menjadi tempat untuk berjualan yang hanya dengan bermodalkan gambar produk yang dibarengi dengan status update, atau dengan men-tag teman-teman dekat / relasi, secara otomatis informasi produk tersebut akan diketahui oleh kita. Jika tertarik dengan produk tersebut, maka akan menanyakan lebih detail via email Facebook ke penjual, jikalaupun tidak kenal, terlebih dahulu meng-invite untuk menjadi temannya, yang sebelumnya mencari referensi dari teman yang dikenalnya. Setelah itu akan mengirimkan pesan yang berisikan lebih jauh tentang produk, keberadaan dan kebenarannya dari penjual produk tersebut. Atau dengan cara lain meminta bantuan kepada teman yang dikenalnya untuk membelikan produk tersebut. Dan selanjutnya jika menyukai akan berkomunikasi dengan handphone / sms dan akhirnya terjadilah transaksi.
Kegiatan perilaku user online yang berada di milis / forum sama halnya dengan yang ada di Facebook dalam konteks ini, yaitu seni dalam ‘berjualan’. Kata kuncinya adalah dipublikasikan terlebih dahulu, trust (percaya satu sama lainnya) kemudian berlanjut ke proses transaksi. Pembeda antara forum/milis dengan Facebook adalah di forum / milis mempunyai persamaan diantara user; seperti hobby, satu perkumpulan, satu pokok pembahasan dan lain sebagainya. Sedangkan Facebook terdapat berbagai bermacam-macam orang dengan perilaku yang berbeda – beda.
Dari 2 kasus diatas, maka yang harus dipahami dalam mengirimkan pesan melalui email Facebook, sebagai berikut:
Email Facebook lebih baik digunakan untuk mengirimkan informasi sesama teman yang dikenal dalam bentuk private ataupun bergroup (lebih dari satu).
Email Facebook lebih baik digunakan untuk layanan service (after sales service).
Email Facebook lebih baik digunakan untuk pengingat kegiatan pada Event Group / Invitation.
Email Facebook bisa digunakan sebagai private chat thread, sama halnya dengan menu Discussion pada Facebook Group.
Email Facebook tidak disarankan mengirimkan informasi tentang produk/promo tanpa ada proses perkenalan ataupun pembelian terlebih dahulu (konfirmasi).
Email Facebook tidak disarankan mengirimkan ancaman yang berupa terror.
Nah, sekarang giliran Anda untuk menjawab pertanyaan diatas, apa yang Anda lakukan terhadap jika mendapat pesan email berupa promo iklan di Facebook? atau mempunyai opini yang lain? Share with us.
Banyak website yang memberikan pengalaman dalam bernavigasi, ada yang suka sekali dengan banyak page yang dibuka, ada juga yang suka diajak keliling, ada juga navigasi website yang membuat kita jengkel. Pemahaman dalam membuat navigasi tidaklah harus mengeluarkan ekstra tenaga untuk memikirkannya, tetapi mengerti kebiasaan orang dalam menjelajah sebuah website. Contoh yang mudah memahami perilaku ketika menjelajah sebuah website adalah tanyakan kepada diri kita sendiri, pertanyaan tersebut seperti:
Apakah Anda suka navigasi yang kompleks?
Apakah Anda suka tantangan, seperti menelurusi satu persatu setiap halaman?
Apakah Anda hanya mengikuti keinginan client?
Apakah Anda dapat mengelompokkan per kategori?
Apakah Anda suka yang simple?
dan seterus……..
Hal tersebut tidak luput harus disesuaikan dengan kebutuhan project yang akan dikerjakan. Terkadang klien ingin semua informasi dituangkan kedalam website, tetapi klien pun tidak mengetahui bagaimana mengelompokkan. Nah, disinilah tantangan itu dimulai, buat draft navigasi yang akan diterapkan, kelompokkan, putuskan dan sinkronkan dengan teknologi scriptingnya. Jangan hanya bisa membuat navigasi tetapi tidak memikirkan bagian programmer dan web design dalam mewujudkan, harus senyawa satu sama lainnya. Untuk kali ini kami akan memberikan beberapa contoh navigasi pada Single Page Website beserta fitur-fitur unik.
Sore-sore  menjelang malam, kami menemukan sample penerapan Integrated Marketing Communication (IMC) online, yaitu Skittles, permen warna warni. Apakah Anda pernah mencobanya atau mengetahui product tersebut?. Mari kita lihat penerapan IMC yang dilakukan oleh Skittles.
Pertama, kita melakukan pencarian dengan menggunakan Google search engine, dan ternyata penggunakan dengan kata kunci ’skittles’, wow banyak sekali terkoneksinya.
Kedua, kita memasuki official websitenya, seperti apakah gerangan?. Ternyata websitenya hanya single page, scroll down.. scroll down… dan scroll down..
Ketiga, kita memasuki wilayah social media: Facebook. Didalam Facebook, Skittles membuat aplikasi yang engagement walaupun hanya sebatas memfasilitasikan fitur comment, but it’s great!
selain iklan yang engagement, Skittles memaksimalkan fitur yang ada di Facebook, yaitu Menu Discussion untuk mencari insight terhadap product ini.
Keempat, kita mencari tahu apakah di YouTube product Skittles ini ada? Aha, video yang ada di YouTube sama dengan yang ada di Facebook Video, terkoneksi dengan baik.
Kelima, kita memasuki wilayah realtime update, yaitu Twitter. Skittles is there!, tetapi sepertinya kurang terupdate dengan baik.
Keenam, karena dimana-dimana terlihat banyak gambar. Apakah gambar – gambar tersebut yang berhubungan dengan Skittles ada di Flickr? Ternyata gambar-gambar ini selalu menggunakan nama file gambar menggunakan kata ‘Skittles’.
Ketujuh, Skittles juga menggunakan Wikipedia sebagai informasi tentang productnya.
Diatas adalah beberapa contoh penggunaan IMC online yang dilakukan oleh Skittles. Hal ini tidak luput dari pesan yang ingin disampaikan, karena jika melihat secara keseluruhan, dari tone manner hingga konsepnya terlihat jelas, rapi dan tersusun.
Bagaimana dengan perusahaan Anda, apakah sudah terintegrasi dan memaksimalkan brand dengan social media? Jika belum, tidak ada salahnya untuk mencoba, jika sudah jangan lupa untuk mengupdatenya.
Google Buzz adalah layanan jejaring sosial yang hampir mirip dengan Twitter, tool ini bukan merupakan suatu inovasi melainkan hanya membuat product differentiation dari product Google. Meroketnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang tiap harinya terus meningkat dalam jumlah yang bergabung dalam sosial tersebut, maka Google merasakan bahwa kekuatan pasarnya terganggu. Dalam kurun hanya hitungan bulan, Google mengeluarkan berbagai tools yang sampai saat ini masih belum terasa impactnya, salah satu product Google adalah Google Wave, yang mempunyai fitur mengintegrasikan dan mengkolaborasikan komunikasi secara realtime.
Konsep strategi Google berbeda dengan Apple yang menetrasi pasar dengan cara terbuka terhadap productnya yang kita dapat dengan mudah mengenali product dari Google. Jikalau ada third party, pastinya sudah diakuisisi oleh Google, seperti Picasa untuk share images, YouTube untuk share videos dan RSS Feed seperti Feedburner sudah menjadi bagian dari Google Feed. Sebelum Feedburner ini diakuisisi oleh Google, Google mengeluarkan product untuk RSS Feed, yaitu Google Reader, tetapi peminatnya kurang dan untuk mengakses Google Reader ini hanya untuk yang mempunyai account Google (lock in). Sedangkan setiap pemain blog memiliki tool untuk RSS Feed menggunakan Feedburner dikarenakan mudah dalam mengoperasikannya, oleh sebab itu Feedburner ini sekarang sudah dimiliki oleh Google. Dengan contoh yang dijelaskan diatas terbukti bahwa Google ingin menguasai semua lini di dunia maya. Question: Bagaimana strategi Google Reader selanjutnya dengan adanya Feedburner?
Tak kalah hebatnya, semua lini teknologi Google ingin ikut bergabung meramaikannya dengan hadirnya sistem operasi Android dengan merangkul vendor smartphone sebagai uji coba pada OS Android pada smartphone. Setelah berhasil menggandeng vendor smartphone tersebut, lahirlah product pertama Google untuk smartphone yang dikenal dengan Nexus One. Question:Akankan Nexus One bisa mengalahkan market share Blackberry atau iPhone?
Kalau melihat pergerakan dari product – product yang dikeluarkan secara beruntun ini yang dapat dipantau melalui Google Labs dari Google Blog. Google merasa kagum dengan Facebook yang mempunyai market share social media yang besar. Sedangkan Google lebih tertarik dengan konsep Twitter yang hanya mengirimkan pesan melalui 140 karakter seperti halnya SMS (short message service). Mengapa Google tertarik?, karena konsep Twitter ini sejalan dengan konsepnya Google yang ingin menciptakan Real-Time Search, oleh sebab itu terciptalah Google Buzz. Dari gerak gerik Google tersebut terlihat selain ingin mendapatkan market share dalam social media, Google juga sedang mempersiapkan amunisinya untuk mewujudkan impiannya di dunia maya, sebagai penguasa dalam search engine dengan mengusungkan real time search engine. Question: Apakah dengan hadirnya Google Buzz akan menggantikan peran Twitter?
Download ‘Perbandingan fitur Facebook, Twitter dan Google Buzz’ via SlideShare
Selama mengamati kegiatan online setiap hari, akhirnya kami dapat menyimpulkan dan menjabarkan bagaimana membuat strategi Integrated Marketing Communication (IMC) online secara teknis serta tips dan tricknya. Dalam hal ini kami tidak menjabarkan bagaimana membuat creative idea untuk kampanye brand online Anda, tetapi menjelaskan secara teknis bagaimana mewujudkan creative idea Anda kedalam kampanye online.
Penjelasan ini bersifat pengenalan yang harus dipahami untuk marketing online, untuk teknisnya dapat diunduh pada akhir penjelasan ini. Anda pasti akan mengalami suatu kebuntuan dalam membuat creative idea di online, hal itu terjadi dikarenakan Anda selalu fokus pada kegiatan kampanye offline Anda ditambah pengetahuan online Anda yang masih meraba-raba. Pemahaman ini yang mungkin menjadi paranoid untuk mengajukan strategi IMC online kepada client Anda.
Strategi IMC online sama halnya dengan Strategi IMC offline, yang mengkomunikasikan satu pesan dan diimplementasikan ke berbagai media placement, tentunya disesuaikan dengan target market Anda. Perbedaan antara offline dan online adalah bahwa berkampanye online dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya atau dalam bahasa yang familiar-nya adalah Engagement. Walaupun pada offline hal ini pun sering dilakukan oleh Public Relation (PR). Social media hanya sebuah tools untuk memasuki social networking dengan gampang, tidak harus bekerja keras untuk membangun komunitas. Melainkan komunitas tersebut sudah terbangun, hanya tinggal bagaimana mengklasifikasikan needs and wants komunitas tersebut berdasarkan behavior. Untuk lebih kenal dengan social media, mari melanjuti penjelasan dibawah ini.
Social media tercipta dari kebutuhan untuk dapat berinteraksi satu sama lainnya tanpa batas usia, waktu dan tempat dan selain itu dengan didukung dengan teknologi yang terus berevolusi, maka terciptalah tools yang memiliki fitur dan fungsi yang berbeda satu sama dengan lainnya. Awal muasal hal ini terjadi dikarena kebutuhan akan berbagi, maka terciptalah tools seperti; YouTube yang fokus pada video online, Flickr yang fokus untuk menampung gambar, Slideshare yang dikhususkan untuk presentasi online dan Rapidshare yang khusus untuk menampung segala macam jenis file dalam ukuran yang besar ataupun kecil dalam kapasitasnya dan juga tidak kalah pentingnya adalah blog.
Kehadiran blog menjadi sangat diminati, dikarenakan sangat mudah mengoperasikannya dan juga tidak mengeluarkan biaya. Dengan blog ini setiap orang dapat ‘berteriak’ mengutarakannya kedalam tools ini dari berbagi tentang teknologi yang update hingga membicarakan gaya hidup. Konsep ‘Share’ ini memberikan kesimpulan bahwa tools yang telah disebutkan tadi merupakan suatu fasilitas yang dapat memberikan ruang bagi setiap orang untuk dapat memberikan dan menerima ilmu pengetahuan dalam bentuk apapun dalam dunia online.
Kata kunci ’share’ ini akhirnya berevolusi menjadi ‘Engagement’, tidak hanya berbagi saja, tetapi setiap orang dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya. Terbuka tanpa harus ditutupi, baik buruk akan terlihat secara telanjang dan akan dinilai secara langsung oleh siapapun. Hal ini yang harus diperhatikan dampak baik dan buruknya bagi pemilik brand, keberadaan suatu brand didalam dunia online sangatlah sensitif. Jika tidak peka, maka keberadaan brand di online akan hilang dengan cepat ataupun terpuruk. Jika peka, maka akan menjadi buah bibir yang baik dan menimbulkan buzz yang positif yang tersebar dalam hitungan detik terhadap brand tersebut.
Dengan Engagement ini, terciptalah tools yang dapat mewujudkan revolusi tersebut pada dunia online. Facebook dan Twitter adalah hasil akhir dari revolusi ‘Engagement’ ini yang mempunyai komunitas paling banyak diminati diseluruh dunia. Walaupun tools ini bukan merupakan pioner pada social media, tetapi keberadaannya dapat merubah behavior manusia.
Download Tutor ‘Mengoptimalkan Blog Perusahaan Anda’ via Slideshare