Terkadang sangat menjengkelkan saat membuka Facebook terdapat bermacam-macam barang dagangan yang memenuhi wall kita. Seni berjualan di Facebook yang saya sering lihat adalah mengupload barang jualannya dan men-tag ke relasi teman-teman yang bertujuan jika berminat langsung dapat memesan. Dan ada juga memberikan message yang didalamnya informasi tentang product yang dijual. Teknik semacam ini memang paling mudah diterapkan, tetapi sangat menjengkelkan bagi sebagian orang. Bagaimana menjual di Facebook dengan lebih elegan dalam mempromosikan product-nya?
Threadless adalah salah satu contoh dari sekian banyak seni berjualan di Facebook yang elegan dengan mengintegrasikan fasilitas gratis (free) untuk mempromosikan productnya. Seperti apakah fasilitas gratis (free) tersebut? RSS Feed dan Email Newsletter dari Google Feedbuner, Twitter, Flickr, MySpace, dan lain-lain.
Website:
Facebook:
Facebook Apps (New Teest):
Flickr:
Twitter:
RSS Feed dari Google Feedburner:
MySpace:
Kesimpulan dari contoh seni berjualan ala Threadless ini adalah:
Mengoptimalkan dan mengintegrasikan informasi via website hingga social media (free) supaya product ada dimana-mana (hukum Google: menyebar).
Meng-update dan me-maintenance social media tersebut untuk selalu tetap eksis, hal ini bertujuan agar pencarian dalam search engine dapat maksimal.
Berkomunikasi dan berinteraksi antara brand dan konsumen untuk dapat memahami dan mengetahui insight dari perilaku konsumen terhadap product tersebut.
Buatlah online campaign yang elegan dalam mengkomunikasikannya (menggabungkan unsur teknologi, art dan branding untuk pencapaian hasil maksimal)
Selain mengoptimalkan fasilitas yang gratis ini dibutuhkan sumber daya manusia untuk selalu membuat program atau campaign yang selalu berubah agar tidak membosankan dan selalu menampilkan sesuatu yang baru (fresh). Sering sekali ditemukan campaign online dilakukan hanya per 3 bulan aktif dan selanjutnya tidak pernah ada lagi. Sedangkan investasi di online tidak diukur dengan bagusnya online campaign saja pada saat lauching, tetapi karena keberadaan yang menjadikan online branding semakin kuat.
Bagaimana menurut teman-teman ada yang penambahan point dari kesimpulan ini, share with us.
Thanks to Rahman Kuncoro for the inspirations.
Ketika kita sedang berdiskusi di pagi hari sambil breakfast nasi uduk, terucap dari om Dedidonk, “gi, sekarang banyak banyak yah novel ebook, gw beli di toko buku dan beli di online beda harganya, eh sekarang malah banyak yang gratis”. Saya sedang mengunyah nasi uduk dan om Dedidonk berdiri sambil mengambil tempe dimeja dan saya menjawab, “memang banyak, setelah iPad keluar, semua perusahaan mau tidak mau masuk kedalam pasarnya ebook biar dapat market share karena alatnya sudah beredar, dari produk berkualitas sampai yang paling murah sudah keluar tuh”.
Saya menanyakan kembali ke om Dedidonk, “dapat dari mana ebooknya? rapidshare yah?”. Om Dedidonk menjawab dengan santai, “gratis dunk, neh pakai mobiPockect Reader.” Dan dilanjuti dengan penjelasan tentang konten dari novel tersebut oleh om Dedidonk, “gw pernah baca versi Indonesianya sampai setebel ini (menunjukkan ketebelan novel tersebut) dan gw liat yang versi bahasa Inggrisnya sama filmnya beda semuanya yah”.
Dalam percakapan tersebut sering kita alami walaupun mungkin tidak menyadari hal tersebut, tetapi ada insight yang dapat diambil dari percakapan tersebut. Oke, mari kita break down satu persatu dari percakapan tadi. Saat ini pergeseran siklus bisnis sangat terasa sekali, terutama jika merujuk dari percakapan tersebut adalah pembicaraan tentang sebuah novel yang merupakan buku yang kita suka, kita beli, sentuh, baca dan jika selesai membacanya diletakkan di rak buku. Novel tercipta karena ada pengarang, penerbit, distributor dan pembaca.
Setiap pengarang harus memiliki kualitas cerita, penyampaian melalui tulisan serta juga imaginasinya. Penerbit harus memiliki dapur yang handal dan professional dalam membungkus novel tersebut supaya lebih menarik yang secara otomatis bahan baku tersebut yang paling penting adalah kertas. Selanjutnya ketika buku tersebut beredar, maka penerbit memerlukan distributor untuk menjangkau para pembaca supaya dapat memiliki novel tersebut dan terakhir novel tersebut ada di genggaman kita setelah membeli di toko buku.
Jika melihat prosesnya sangatnya kompleks, memerlukan banyak biaya dan tidaklah mudah. Dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang, yang mengarahkan dan merubah perilaku menjadi lebih mudah dan efisien. Dan terciptalah yang disebut salah satunya adalah eBook, yaitu buku elektronik yang dapat dilihat melalui komputer atau mobile dengan bantuan mobiPocket Reader. Segala macam isi dan konten pada novel tersebut dimuat dalam bentuk digital yang dapat diunduh secara gratis, baik pada aplikasinya dan juga kontennya tanpa distribusi ataupun mencetaknya. Dengan kehadiran ebook ini, bahwa era digital sudah memasuki secara perlahan kedalam kehidupan kita tanpa disadari dan menjadi habit, Dan kesimpulan pada pagi ini adalah sebagai berikut:
Gratis dan Menyebar. Pola bisnis di internet mengarahkan kepada semua gratis, ada juga berupa layanan donasi atau jika ingin lebih, maka ada proses selanjutnya, yaitu jualan. Memiliki content yang bagus dan ada dimana-mana, tidak berpegangan hanya pada website saja, melainkan di social media, forum, portal dan platform lainnya yang bertujuan agar konsumen dapat meraihnya dengan mudah.
Efisien dan Tahan Lama. Produktifitas di internet tidak banyak memerlukan banyak biaya, hanya memerlukan hosting dan domain name untuk meletakkan produk atau jasa lainnya pada dunia maya. Sedangkan datanya seperti video bisa diletakkan di YouTube / Vimeo / Google Video, pada gambar dapat menggunakan fasilitas Flickr / Picasa, dalam bentuk Word/PDF dapat diletakkan di Slideshare / Google Docs (semua serba Clouds system), seperti pada tulisan sebelumya tentang IMC Online, dan selamanya akan ada di internet, tidak akan pernah usang, kotor ataupun hilang. Dan secara otomatis dengan adanya internet akan memangkas biaya produksi, distribusi dan promosi.
Barang Langka. Buku/Novel/sejenisnya suatu saat nanti akan menjadi barang yang langka, maka jaga dan rawat buku/novel/sejenisnya yang Anda sudah milik sekarang dengan baik-baik karena buku / novel / sejenisnya akan mengarah ke digital.
Unik dan Fresh. Para pengarang harus memiliki ide cerita yang unik, imaginatif dan juga tentunya fresh karena setiap orang dapat menulis, mengekspresikan bakatnya melalui internet dan dapat mempromosikan dirinya sendiri melalui internet tanpa harus melalui penerbit.
Kampanye Global Warming. Dengan gerakan Green kepada seluruh dunia untuk menyelamatkan dunia dari Global Warming, maka perusahaan yang berhubungan dengan bahan bakunya yang menggunakan kertas, harus lebih sigap menangani perubahan ini. Jika tidak mengambil langkah-langkah strategies maka akan menggangu proses pertumbuhan bisnisnya.
Mungkin itu saja yang ada dipikiran saat ini, jika ada pemikiran tentang hal ini akan segera di update atau Anda mempunyai pemikiran yang berbeda, share dengan kami.
Apa yang menyebabkan suatu perusahaan ragu – ragu untuk mengkomunikasikan produknya kedalam media online?. Oke, kita ilustrasikan sebagai berikut; suatu perusahaan besar/pemilik brand adalah seorang Ibu yang mempunyai seorang anak (produk) dengan nama yang unik (brand). Ibu mengerti sekali bagaimana merawat dan membesarkan anaknya dengan memperlakukan dengan cara yang berbeda, hal tersebut dilakukan karena anak2nya (brand differentiation) memiliki sifat yang beda (targeting). Ketika anak ini sudah menginjak remaja, seorang Ibu akan menyekolahkannya (menyewa brand konsultan), setelah anak ini beranjak dewasa, mereka telah siap untuk diuji ke dalam masyarakat (market) dan seterusnya.
Dalam konteks diatas menerangkan bahwa suatu perusahaan akan selalu menggunakan kekuatannya untuk membuat brand tersebut tetap terjaga dan terawat dengan baik. Untuk menjaga dan merawat brand tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit, karena menggunakan media offline, seperti media cetak, outdoor dan juga elektronik. Apalagi jika menerapkan Integrated Marketing Communication (IMC) yang semua lini dari hulu ke hilir digunakan. Hal ini menyebabkan pembengkakkan pada biaya yang dikeluarkan.
Dengan bertahun-tahun selalu menggunakan media offline, para pemilik brand tidak cepat merespon perkembangan yang terjadi, sedangkan perilaku konsumen selalu berubah setiap tahunnya. Apalagi dengan perkembangan media internet yang menghadirkan perilaku yang baru dengan adanya social media.
Apa yang menyebabkan perusahaan tidak mengambil kesempatan menggunakan social media, ada beberapa hal kecenderungan itu terjadi, disebabkan:
Anda (perusahaan) masih nyaman dengan media offline, jelas prosesnya, mengetahui biaya yang dikeluarkan serta dapat mengetahui dampak dari media ini untuk penjualannya;
Anda berasumsi bahwa media internet hanya sebatas pelengkap yang sama dengan media-media lainnya, perbedaannya hanya media ini bersifat online;
Anda menyadari ada perubahan perilaku konsumen bahwa social media sudah masuk kedalam kehidupan sehari-hari, seperti chat, update status, upload foto dan lain-lain, tetapi hal tersebut hanya dipahami sebatas trend sesaat;
Anda mengetahui adanya social media, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi pada social media. Komunitas tersebut sudah ada dan yang Anda lakukan hanya bisa mengarahkan, mempengaruhi dan mendukung komunitas tersebut;
Anda mungkin dengan mudahnya dapat mengeluarkan power untuk menciptakan komunitas baru, tetapi Anda tidak memikirkan bagaimana merawat selanjutnya. Yang harus dipahami adalah bahwa Anda tidak bisa menciptakan komunitas baru dengan cepat karena membangun komunitas memerlukan proses waktu dan tenaga;
Anda tidak dapat mengontrol mereka, mereka bebas bersuara, tidak ada aturan main didalamnya, mereka sendiri yang menciptakan aturan tersebut, tetapi yang bisa Anda lakukan adalah berkomunikasi dan merespon mereka dengan cepat.
Anda tidak dapat memaksa mereka menelan mentah-mentah pesan Anda, seperti halnya yang telah Anda sering lakukan oada media offline (komunikasi satu arah), karena perubahan di media internet sudah menggunakan teknologi web 2.0 (komunikasi 2 arah);
Anda hanya bisa mendengarkan, belajar dari perilaku mereka dan mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan inginkan, seperti tips dan trik: Mencari Customer Insight via Twitter.
Sebelum terjun ke media online, yang harus Anda persiapkan adalah sumber daya manusia serta strategi yang selalu diupdate supaya tidak hilang begitu saja. Contoh sukses dalam memanfaatkan teknologi web 2.0 ini adalah Dell dan Starbuck. Dell menciptakan komunikasi 2 arah untuk mencari insight dan berkomunikasi langsung dengan konsumen yang melahirkan IdeaStorm. Sedangkan Starbuck menciptakan strategi komunikasi 2 arah ini dengan menggabungkan media offline dan online dalam merawat brandnya dengan strategi marketing onlinenya dengan menciptkan My Starbuck Idea. Coca Cola pun juga ikut berpartisipasi, check presentasi ini, Coca-Cola: ‘Fans First’ Approach in Social Communities. Begitu juga dengan BurgerKing menggunakan social media, seperti YouTube, Facebook dan Website. Oke, selanjutnya kembali ke perusahaan Anda, apakah perusahaan Anda siap untuk hadir di social media? Tidak salah mencoba daripada tidak sama sekali
Bunyi beep di Blackberry berbunyi, menandakan ada suatu pesan atau chat yang masuk kedalam Blackberry Anda. Ketika pesan itu dibuka, Anda merasa jengkel dengan pesan tersebut. Dikarenakan pesan tersebut berasal direct message dari Facebook yang berisi sebuah iklan / promosi / informasi produk yang dikirimkan secara personal ataupun serentak dan Anda sendiri pun tidak mengenal yang mengirimkan pesan tersebut. Apa yang Anda lakukan terhadap pesan tersebut?
Apakah langsung membuang pesan tersebut?
Apakah didiamkan saja hingga mengotori ruang box pesan Anda?
Apakah Anda membalas dengan antusias?
Apakah Anda mengirim kembali pesan tersebut dan memberitahukan bahwa untuk tidak mengirimkan kembali pesan tersebut?
Jika dilihat dari fungsi pesan yang ada di Facebook, pada dasarnya sama halnya dengan pesan email. Tetapi fungsi dasar pada pesan di Facebook adalah suatu tools untuk mengirimkan pesan kepada relasi / orang yang kita kenal tanpa harus membuka account email Anda. Oke, mari kita diskusikan dan kita tuangkan dalam kasus dibawah ini.
Perilaku user online ‘berjualan’ menggunakan email Mini Case 1: Jika Anda memiliki milis/forum dan Anda sering mendapat pesan melalui email dengan subject: WTS: Produk A Harga Promo. Didalam pesan tersebut berisikan spesifikasi, harga dan diikuti dengan kalimat ‘jika tertarik via japri (jalur pribadi)’. Pasti Anda tahu betul bagaimana menanggapinya untuk proses selanjutnya. Jika tertarik dengan produk tersebut maka akan memulai komunikasinya melalui japri/direct message setelah itu tukar-tukaran nomor telephone dan akhir berlanjut bertemu untuk melihat dan bertransaksi.
Mini Case 2: Saat ini Facebook bukan saja hanya sebagai mencari teman, bernostalgia, CLBK, reunion, main games dan lain-lain, tetapi Facebook sudah dijadikan menjadi tempat untuk berjualan yang hanya dengan bermodalkan gambar produk yang dibarengi dengan status update, atau dengan men-tag teman-teman dekat / relasi, secara otomatis informasi produk tersebut akan diketahui oleh kita. Jika tertarik dengan produk tersebut, maka akan menanyakan lebih detail via email Facebook ke penjual, jikalaupun tidak kenal, terlebih dahulu meng-invite untuk menjadi temannya, yang sebelumnya mencari referensi dari teman yang dikenalnya. Setelah itu akan mengirimkan pesan yang berisikan lebih jauh tentang produk, keberadaan dan kebenarannya dari penjual produk tersebut. Atau dengan cara lain meminta bantuan kepada teman yang dikenalnya untuk membelikan produk tersebut. Dan selanjutnya jika menyukai akan berkomunikasi dengan handphone / sms dan akhirnya terjadilah transaksi.
Kegiatan perilaku user online yang berada di milis / forum sama halnya dengan yang ada di Facebook dalam konteks ini, yaitu seni dalam ‘berjualan’. Kata kuncinya adalah dipublikasikan terlebih dahulu, trust (percaya satu sama lainnya) kemudian berlanjut ke proses transaksi. Pembeda antara forum/milis dengan Facebook adalah di forum / milis mempunyai persamaan diantara user; seperti hobby, satu perkumpulan, satu pokok pembahasan dan lain sebagainya. Sedangkan Facebook terdapat berbagai bermacam-macam orang dengan perilaku yang berbeda – beda.
Dari 2 kasus diatas, maka yang harus dipahami dalam mengirimkan pesan melalui email Facebook, sebagai berikut:
Email Facebook lebih baik digunakan untuk mengirimkan informasi sesama teman yang dikenal dalam bentuk private ataupun bergroup (lebih dari satu).
Email Facebook lebih baik digunakan untuk layanan service (after sales service).
Email Facebook lebih baik digunakan untuk pengingat kegiatan pada Event Group / Invitation.
Email Facebook bisa digunakan sebagai private chat thread, sama halnya dengan menu Discussion pada Facebook Group.
Email Facebook tidak disarankan mengirimkan informasi tentang produk/promo tanpa ada proses perkenalan ataupun pembelian terlebih dahulu (konfirmasi).
Email Facebook tidak disarankan mengirimkan ancaman yang berupa terror.
Nah, sekarang giliran Anda untuk menjawab pertanyaan diatas, apa yang Anda lakukan terhadap jika mendapat pesan email berupa promo iklan di Facebook? atau mempunyai opini yang lain? Share with us.
Google Buzz adalah layanan jejaring sosial yang hampir mirip dengan Twitter, tool ini bukan merupakan suatu inovasi melainkan hanya membuat product differentiation dari product Google. Meroketnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang tiap harinya terus meningkat dalam jumlah yang bergabung dalam sosial tersebut, maka Google merasakan bahwa kekuatan pasarnya terganggu. Dalam kurun hanya hitungan bulan, Google mengeluarkan berbagai tools yang sampai saat ini masih belum terasa impactnya, salah satu product Google adalah Google Wave, yang mempunyai fitur mengintegrasikan dan mengkolaborasikan komunikasi secara realtime.
Konsep strategi Google berbeda dengan Apple yang menetrasi pasar dengan cara terbuka terhadap productnya yang kita dapat dengan mudah mengenali product dari Google. Jikalau ada third party, pastinya sudah diakuisisi oleh Google, seperti Picasa untuk share images, YouTube untuk share videos dan RSS Feed seperti Feedburner sudah menjadi bagian dari Google Feed. Sebelum Feedburner ini diakuisisi oleh Google, Google mengeluarkan product untuk RSS Feed, yaitu Google Reader, tetapi peminatnya kurang dan untuk mengakses Google Reader ini hanya untuk yang mempunyai account Google (lock in). Sedangkan setiap pemain blog memiliki tool untuk RSS Feed menggunakan Feedburner dikarenakan mudah dalam mengoperasikannya, oleh sebab itu Feedburner ini sekarang sudah dimiliki oleh Google. Dengan contoh yang dijelaskan diatas terbukti bahwa Google ingin menguasai semua lini di dunia maya. Question: Bagaimana strategi Google Reader selanjutnya dengan adanya Feedburner?
Tak kalah hebatnya, semua lini teknologi Google ingin ikut bergabung meramaikannya dengan hadirnya sistem operasi Android dengan merangkul vendor smartphone sebagai uji coba pada OS Android pada smartphone. Setelah berhasil menggandeng vendor smartphone tersebut, lahirlah product pertama Google untuk smartphone yang dikenal dengan Nexus One. Question:Akankan Nexus One bisa mengalahkan market share Blackberry atau iPhone?
Kalau melihat pergerakan dari product – product yang dikeluarkan secara beruntun ini yang dapat dipantau melalui Google Labs dari Google Blog. Google merasa kagum dengan Facebook yang mempunyai market share social media yang besar. Sedangkan Google lebih tertarik dengan konsep Twitter yang hanya mengirimkan pesan melalui 140 karakter seperti halnya SMS (short message service). Mengapa Google tertarik?, karena konsep Twitter ini sejalan dengan konsepnya Google yang ingin menciptakan Real-Time Search, oleh sebab itu terciptalah Google Buzz. Dari gerak gerik Google tersebut terlihat selain ingin mendapatkan market share dalam social media, Google juga sedang mempersiapkan amunisinya untuk mewujudkan impiannya di dunia maya, sebagai penguasa dalam search engine dengan mengusungkan real time search engine. Question: Apakah dengan hadirnya Google Buzz akan menggantikan peran Twitter?
Download ‘Perbandingan fitur Facebook, Twitter dan Google Buzz’ via SlideShare
Apakah yang akan berkembang pada dunia online pada tahun 2010? Jika dilihat dari perkembangan dunia online pada tahun sebelumnya hingga saat ini telah terjadi perubahan yang sangat cepat, terutama pada ruang lingkup social networking yang memfasilitasikan pada social media. Persaingan dunia online pada social media mencapai titik puncak (stagnant) dan sebagai pemenangnya adalah Facebook dan Twitter, walaupun banyak rupa pada social media, tetapi engine atau konsep yang digunakan sama dengan Facebook ataupun Twitter, yaitu mempromosikan pribadi/organisasi/perusahaan ke khalayak orang banyak.
Perubahan ini yang menjadikan perilaku konsumen online berubah (shifting) dari personal hingga berbaur dengan yang lain. Hal ini berhubungan dengan teori Abraham Maslow, yaitu pada tingkat ketiga pada teori tersebut adalah social & belonging. Hal ini menyebabkan mau tidak mau konsumen harus mengikuti trend tersebut dan menjadikan hal tersebut suatu kebiasaan dan gaya hidup (lifestyle). Dibawah ini adalah analysis dan prediksi yang kami rangkum dalam 3 kategori besar, antara lain:
Perilaku Konsumen Online
Social media seperti Facebook dan Twitter sudah menjadi sebuah kebiasaan, populasinya sudah meningkat dan pengguna social media memasuki Generation Y, tetapi masih banyak yang belum mengetahui pemakaian dari masing-masing social media tersebut.
Manfaat yang sangat penting dari Blog ataupun Wordpress adalah tersedianya RSS yang menjadikan informasi tersebut diterima langsung melalui email (subscriber) tanpa users harus mengunjungi website tersebut
Perilaku konsumen online sudah tidak terbiasa dengan konteks yang banyak (simple), melainkan hanya melihat informasi secara straight forward, dikarenakan informasi yang dihadapi setiap harinya datang dari berbagai source.
Bahasa di web sudah menjadi generalisasi, yang artinya bahasa apapun dapat dengan mudah dipahami dengan adanya translate web yang disesuaikan dengan bahasa yang kita pahami.
Perubahan konsumen lebih sering menggunakan fasilitas mobilephone dibandingkan dengan PC/Laptop.
Word of Mouth akan berubah menjadi Word of Mouse, karena jika ada informasi yang update/trend akan menjadi bubble informasi dari sumber manapun (buzz), seperti pada social media, blog, forum, Group pada Blackberry Messenger dan sebagainya.
Hardware & Software
Pertumbuhan yang sangat cepat terhadap smartphone seperti Blackberry, Android dan iPhone. Vendor ini juga membuat Operating System (OS) sendiri dan mulai secara perlahan OS pada windows mobile mengalami penurunan minat.
Teknologi wireless semakin meningkat dengan banyaknya product yang menawarkan modem wireless, seperti IM2, Telkom Flash, Smart dan lain-lain dengan harga yang bersaing (telah terjadi diversifikasi productdan menyebabkan harga product murah, kualitas semakin menurun).
Perkembangan aplikasi berbasis Java system sudah mulai memasuki ke area web apps yang semakin canggih dan terintegrasi antara PC dan mobilephone.
Teknologi animasi dengan Flash mengalami penurunan minat dikarena terlalu memakan bandwidth koneksi internet dan belum bisa diakses melalui mobilephone.
Pada persaingan harga terlihat jika product memiliki teknologi canggih dengan harga yang relatif wajar, maka akan merajai pasar (memiliki market share) dibandingkan product yang memiliki teknologi canggih dengan harga yang tidak wajar akan jarang diminati oleh pasa (niche market).
Prediksi 2010
Dikarenakan informasi di internet seperti benang kusut, maka Google sudah membuat system yang dikenal dengan Google Wave untuk mengatur dan memudahkan dalam pengelompokkan data, yang secara otomatis email yang diterima dari satu source akan terlihat menjadi satu kesatuan. Hal serupa sudah dilakukan oleh OS Blackberry pada pengelompokkan system email dan sms.
Akan memasuki era real time technology; teks, voice dan video online secara realtime dan terintegrasi. Jika hal ini terjadi, tidak menutup kemungkinan, yang biasa offline broadcast akan menjadi online broadcast, seperti radio online, TV online, Cinema Online dan lain-lain.
Persaingan didalam Operating System (OS) mobilephone dan juga perangkat kerasnya (hand held).
Tarif internet akan mengalami penurunan, dan provider/vendor harus siap-siap beralih ke Services Strategy, siapa yang mengusungkan service yang baik, mempertahankan kualitas yang baik dan menambah coverage area yang luas akan banyak diminati oleh konsumen.
Penggunaan internet akan merambah lebih cepat ke pelosok daerah.
Social media akan beralih ke perusahaan satu dengan perusahaan lainnya yang digunakan untuk internal; Corporate Relationship Management (CRM) dan external; Software as a Service (SaaS).
Smartphone dengan touch screen akan menjadi sebuah multifungsi sebagai kartu, seperti ID card, kartu kredit dengan system wave technology, Presto dan kartu lainnya.