Posts Tagged ‘brand’

17
Feb

Siapkah Perusahaan Anda Menggunakan Social Media?

Apa yang menyebabkan suatu perusahaan ragu – ragu untuk mengkomunikasikan produknya kedalam media online?. Oke, kita ilustrasikan sebagai berikut; suatu perusahaan besar/pemilik brand adalah seorang Ibu yang mempunyai seorang anak (produk) dengan nama yang unik (brand). Ibu mengerti sekali bagaimana merawat dan membesarkan anaknya dengan memperlakukan dengan cara yang berbeda, hal tersebut dilakukan karena anak2nya (brand differentiation) memiliki sifat yang beda (targeting). Ketika anak ini sudah menginjak remaja, seorang Ibu akan menyekolahkannya (menyewa brand konsultan), setelah anak ini beranjak dewasa, mereka telah siap untuk diuji ke dalam masyarakat (market) dan seterusnya.

Dalam konteks diatas menerangkan bahwa suatu perusahaan akan selalu menggunakan kekuatannya untuk membuat brand tersebut tetap terjaga dan terawat dengan baik. Untuk menjaga dan merawat brand tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit, karena menggunakan media offline, seperti media cetak, outdoor dan juga elektronik. Apalagi jika menerapkan Integrated Marketing Communication (IMC) yang semua lini dari hulu ke hilir digunakan. Hal ini menyebabkan pembengkakkan pada biaya yang dikeluarkan.

Dengan bertahun-tahun selalu menggunakan media offline, para pemilik brand tidak cepat merespon perkembangan yang terjadi, sedangkan perilaku konsumen selalu berubah setiap tahunnya. Apalagi dengan perkembangan media internet yang menghadirkan perilaku yang baru dengan adanya social media.

Apa yang menyebabkan perusahaan tidak mengambil kesempatan menggunakan social media, ada beberapa hal kecenderungan itu terjadi, disebabkan:

  1. Anda (perusahaan) masih nyaman dengan media offline, jelas prosesnya, mengetahui biaya yang dikeluarkan serta dapat mengetahui dampak dari media ini untuk penjualannya;
  2. Anda berasumsi bahwa media internet hanya sebatas pelengkap yang sama dengan media-media lainnya, perbedaannya hanya media ini bersifat online;
  3. Anda menyadari ada perubahan perilaku konsumen bahwa social media sudah masuk kedalam kehidupan sehari-hari, seperti chat, update status, upload foto dan lain-lain, tetapi hal tersebut hanya dipahami sebatas trend sesaat;
  4. Anda mengetahui adanya social media, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi pada social media. Komunitas tersebut sudah ada dan yang Anda lakukan hanya bisa mengarahkan, mempengaruhi dan mendukung komunitas tersebut;
  5. Anda mungkin dengan mudahnya dapat mengeluarkan power untuk menciptakan komunitas baru, tetapi Anda tidak memikirkan bagaimana merawat selanjutnya. Yang harus dipahami adalah bahwa Anda tidak bisa menciptakan komunitas baru dengan cepat karena membangun komunitas memerlukan proses waktu dan tenaga;
  6. Anda tidak dapat mengontrol mereka, mereka bebas bersuara, tidak ada aturan main didalamnya, mereka sendiri yang menciptakan aturan tersebut, tetapi yang bisa Anda lakukan adalah berkomunikasi dan merespon mereka dengan cepat.
  7. Anda tidak dapat memaksa mereka menelan mentah-mentah pesan Anda, seperti halnya yang telah Anda sering lakukan oada media offline (komunikasi satu arah), karena perubahan di media internet sudah menggunakan teknologi web 2.0 (komunikasi 2 arah);
  8. Anda hanya bisa mendengarkan, belajar dari perilaku mereka dan mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan inginkan, seperti tips dan trik: Mencari Customer Insight via Twitter.

Sebelum terjun ke media online, yang harus Anda persiapkan adalah sumber daya manusia serta strategi yang selalu diupdate supaya tidak hilang begitu saja. Contoh sukses dalam memanfaatkan teknologi web 2.0 ini adalah Dell dan Starbuck. Dell menciptakan komunikasi 2 arah untuk mencari insight dan berkomunikasi langsung dengan konsumen yang melahirkan IdeaStorm. Sedangkan Starbuck menciptakan strategi komunikasi 2 arah ini dengan menggabungkan media offline dan online dalam merawat brandnya dengan strategi marketing onlinenya dengan menciptkan My Starbuck Idea. Coca Cola pun juga ikut berpartisipasi, check presentasi ini, Coca-Cola: ‘Fans First’ Approach in Social Communities. Begitu juga dengan BurgerKing menggunakan social media, seperti YouTube, Facebook dan Website. Oke, selanjutnya kembali ke perusahaan Anda, apakah perusahaan Anda siap untuk hadir di social media? Tidak salah mencoba daripada tidak sama sekali :)

Ada opini lain? Share with us.

10
Feb

Media Tools: Interaktif Ads

Mungkin terkesan jenuh dengan banyaknya media iklan yang setiap harinya diselimuti oleh berbagai brand, dari bangun tidur melihat email dari smartphone ‘Blackberry’, setelah itu mandi dengan pasta dan sikat gigi dari ‘pepsodent’, dilanjuti dengan berpakaian dengan ‘hugo boss’, dibaluri dengan minyak wangi ‘Calvin Clain’ hingga berangkat ke kantor menggunakan mobil ‘Jazz’.

Semua berhubungan dengan brand tanpa terkecuali dan setiap pemilik brand berusaha memberikan semacam insulin kepada customernya dengan menghadirkan layanan iklan yang dapat dilihat diberbagai media, seperti billboard, surat kabar, radio, dan lain-lain. Media tersebut hanya memberikan satu arah komunikasi, yaitu kita hanya dapat melihat dan mendengar atau dengan bahasa mudahnya adalah pemilik brand berusaha memberikan kita ingatan terhadap brand tersebut.

Internet adalah solusi yang masuk akal untuk mengaktifasikan suatu brand menjadi lebih interaktif. Tetapi yang satu ini adalah sebuah media interaktif yang dapat mencuri perhatian.