Posts Tagged ‘social media’

28
Jun

Club Cooee: Permainan 3D Online

Club Cooee adalah permainan social networking dalam bentuk 3D online, sangat lite alias ringan, mudah digunakan (sekali install, langsung play), tidak ribet dalam membuat account baru, terintegrasi dengan social media lainnya, dan hebatnya seluruh kemampuan 3D-nya sangat luar biasa (loadingnya lumayan cepat). Yang menariknya adalah membawa komunikasi 2 arah (chat) menjadi lebih menyenangkan.

Berbeda dengan Second Life yang menjadi pioner social networking berbasis 3D (virtual life), sangat ekslusif, dikemas sangat profesional dan mempunyai konsep yang sangat mendalam, seperti tersedianya Second Life Work, Develop hingga Education, lumayan berat karena visualisasi dari Second Life ini sangat detail.

Kalau melihat Club Cooee teringat dengan teknologi Adobe Flash, yang sekarang ini mulai redup para developer menggunakan teknologi tersebut dikarenakan proses loading yang lama, dan juga ada teknologi baru yang menjanjikan, yaitu HTML 5. Setiap web apps di online menawarkan kelebihan dan juga kelemahan dari produk tersebut, jika penasaran dengan Club Cooee, kunjungi websitenya.

So, bagaimana dengan Anda? sudah mencobakah? Disamping interaktif secara 3D, di Club Cooee juga menawarkan games-games online?

11
Jun

Threadless: Seni Berjualan via Facebook

Terkadang sangat menjengkelkan saat membuka Facebook terdapat bermacam-macam barang dagangan yang memenuhi wall kita. Seni berjualan di Facebook yang saya sering lihat adalah mengupload barang jualannya dan men-tag ke relasi teman-teman yang bertujuan jika berminat langsung dapat memesan. Dan ada juga memberikan message yang didalamnya informasi tentang product yang dijual. Teknik semacam ini memang paling mudah diterapkan, tetapi sangat menjengkelkan bagi sebagian orang. Bagaimana menjual di Facebook dengan lebih elegan dalam mempromosikan product-nya?

Threadless adalah salah satu contoh dari sekian banyak seni berjualan di Facebook yang elegan dengan mengintegrasikan fasilitas gratis (free) untuk mempromosikan productnya. Seperti apakah fasilitas gratis (free) tersebut? RSS Feed dan Email Newsletter dari Google Feedbuner, Twitter, Flickr, MySpace, dan lain-lain.

Website:

Facebook:

Facebook Apps (New Teest):

Flickr:

Twitter:

RSS Feed dari Google Feedburner:

MySpace:

Kesimpulan dari contoh seni berjualan ala Threadless ini adalah:

  1. Mengoptimalkan dan mengintegrasikan informasi via website hingga social media (free) supaya product ada dimana-mana (hukum Google: menyebar).
  2. Meng-update dan me-maintenance social media tersebut untuk selalu tetap eksis, hal ini bertujuan agar pencarian dalam search engine dapat maksimal.
  3. Berkomunikasi dan berinteraksi antara brand dan konsumen untuk dapat memahami dan mengetahui insight dari perilaku konsumen terhadap product tersebut.
  4. Buatlah online campaign yang elegan dalam mengkomunikasikannya (menggabungkan unsur teknologi, art dan branding untuk pencapaian hasil maksimal)
  5. Selain mengoptimalkan fasilitas yang gratis ini dibutuhkan sumber daya manusia untuk selalu membuat program atau campaign yang selalu berubah agar tidak membosankan dan selalu menampilkan sesuatu yang baru (fresh). Sering sekali ditemukan campaign online dilakukan hanya per 3 bulan aktif dan selanjutnya tidak pernah ada lagi. Sedangkan investasi di online tidak diukur dengan bagusnya online campaign saja pada saat lauching, tetapi karena keberadaan yang menjadikan online branding semakin kuat.

Bagaimana menurut teman-teman ada yang penambahan point dari kesimpulan ini, share with us.
Thanks to Rahman Kuncoro for the inspirations.

9
Apr

Gunakan Social Media Anda Secara Maksimal

Apa sajakah Social Media yang Anda miliki? Apakah Anda selalu menggunakannya setiap harinya? pertanyaan ini mungkin sangatlah tidak penting, tetapi jika Anda terjun didalam bisnis online, apakah itu sebuah korporasi / organisasi / perorangan, sudah saatnya perlahan-lahan memahami dunia internet yang kian menjadi sebuah kebutuhan setiap harinya. Karena semakin Anda memperkenalkan diri secara personal / korporasi / organisasi di internet semakin Anda terhubung satu dengan yang lainnya untuk pencapaian aktualisasi diri (Hukum Maslow) pada dunia maya. Aktualisasi diri pada dunia maya lebih cepat menyebar dan tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, sangat murah loh.

Memiliki social media seperti Facebook atau Twitter, bukan semata-mata hanya sebatas trend sesaat (latah) ataupun ingin selalu eksis didunia maya, tetapi jika dikelola, diupdate dan dipelihara dengan baik  akan memperkuat brand personal  / korporasi / organisasi Anda dapat diketahui oleh banyak orang. Pemeliharan brand ini yang biasanya kurang dipahami oleh sebagian banyak orang / korporasi / organisasi.

Pemilihan social media pun disesuaikan dengan kebutuhan Anda, sebagai contoh Anda adalah seorang Photographer, yang Anda harus lakukan adalah memiliki sebuah Website (wajib), Blog sebagai bentuk pengekspresian diri melalui tulisan, Facebook sebagai penghubung dengan fans Anda, Twitter sebagai real time update tentang ruang lingkup dunia photographer, Flickr sebagai tempat penyimpanan portfolio Anda, YouTube  sebagai tempat untuk memberikan inspirasi kepada photographer yang lain dalam pemotretan dalam bentuk video (behind the scene) dan lain-lain.

Dalam pemilihan social mediapun harus tetap memilih apa yang paling relevan dengan kebutuhan Anda, misalnya untuk tempat penyimpanan portfolio, Anda dapat menggunakan Flickr / Picasa / deviantART (komunitas visual) / ImageShack / Photobucket atau yang lainnya. Sedangkan untuk tempat penyimpanan dalam bentuk video dapat menggunakan YouTube (streamingnya lebih cepat), Vimeo (khusus untuk komunitas motion graphic), Video Google (terseleksi dengan Google Search) dan lain-lain. Pemilihan dalam social media ini dapat juga sebagai sebuah karakter yang Anda kemas dalam dunia online. Jadikan Anda menjadi sebuah organisasi yang elegan (hukum Facebook).

Setelah Anda sudah memilih social media, langkah selanjutnya adalah dengan memberikan secara real time update menggunakan Twitter untuk dapat memberikan informasi berupa pencerahan, issue, teknik, tips & trick dan lain-lain kepada orang lain dan sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan Anda. Dan juga jika memiliki Facebook digunakan secara lebih personal kepada fans-fans Anda, memberikan mereka perhatian dengan berkomunikasi, memberikan solusi, pendapat / opini dan lain-lain.

Jika hal tersebut Anda sudah lakukan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah memelihara / menjaganya dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya memiliki social media, tetapi tidak dipergunakan sama sekali. Memelihara / menjaga inilah yang membutuhkan kesabaran dan waktu, karena membangun brand personal / korporasi / organisasi membutuhkan waktu. Social media adalah bentuk komunikasi 2 arah yang banyak manfaatnya, setiap social media memiliki kemampuan yang sangat potensial jika digunakan secara efektif, terarah dan tidak memakan biaya sedikitpun.

So, integrasikan website, blog dan social media Anda secara maksimalkan sehingga dapat menyebar dimana-mana (hukum Google: everywhere) yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bagaimana dengan Anda? ada opini lain? Share with us.

12
Mar

eBook: Gratis, Efisien dan Bermanfaat

Ketika kita sedang berdiskusi di pagi hari sambil breakfast nasi uduk, terucap dari om Dedidonk, “gi, sekarang banyak banyak yah novel ebook, gw beli di toko buku dan beli di online beda harganya, eh sekarang malah banyak yang gratis”. Saya sedang mengunyah nasi uduk dan om Dedidonk berdiri sambil mengambil tempe dimeja dan saya menjawab, “memang banyak, setelah iPad keluar, semua perusahaan mau tidak mau masuk kedalam pasarnya ebook biar dapat market share karena alatnya sudah beredar, dari produk berkualitas sampai yang paling murah sudah keluar tuh”.

Saya menanyakan kembali ke om Dedidonk, “dapat dari mana ebooknya? rapidshare yah?”. Om Dedidonk menjawab dengan santai, “gratis dunk, neh pakai mobiPockect Reader.” Dan dilanjuti dengan penjelasan tentang konten dari novel tersebut oleh om Dedidonk, “gw pernah baca versi Indonesianya sampai setebel ini (menunjukkan ketebelan novel tersebut) dan gw liat yang versi bahasa Inggrisnya sama filmnya beda semuanya yah”.

Dalam percakapan tersebut sering kita alami walaupun mungkin tidak menyadari hal tersebut, tetapi ada insight yang dapat diambil dari percakapan tersebut. Oke, mari kita break down satu persatu dari percakapan tadi. Saat ini pergeseran siklus bisnis sangat terasa sekali, terutama jika merujuk dari percakapan tersebut adalah pembicaraan tentang sebuah novel yang merupakan buku yang kita suka, kita beli, sentuh, baca dan jika selesai membacanya diletakkan di rak buku. Novel tercipta karena ada pengarang, penerbit, distributor dan pembaca.

Setiap pengarang harus memiliki kualitas cerita, penyampaian melalui tulisan serta juga imaginasinya. Penerbit harus memiliki dapur yang handal dan professional dalam membungkus novel tersebut supaya lebih menarik yang secara otomatis bahan baku tersebut yang paling penting adalah kertas. Selanjutnya ketika buku tersebut beredar, maka penerbit memerlukan distributor untuk menjangkau para pembaca supaya dapat memiliki novel tersebut dan terakhir novel tersebut ada di genggaman kita setelah membeli di toko buku.

Jika melihat prosesnya sangatnya kompleks, memerlukan banyak biaya dan tidaklah mudah. Dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang, yang mengarahkan dan merubah perilaku menjadi lebih mudah dan efisien. Dan terciptalah yang disebut salah satunya adalah eBook, yaitu buku elektronik yang dapat dilihat melalui komputer atau mobile dengan bantuan mobiPocket Reader. Segala macam isi dan konten pada novel tersebut dimuat dalam bentuk digital yang dapat diunduh secara gratis, baik pada aplikasinya dan juga kontennya tanpa distribusi ataupun mencetaknya. Dengan kehadiran ebook ini, bahwa era digital sudah memasuki secara perlahan kedalam kehidupan kita tanpa disadari dan menjadi habit, Dan kesimpulan pada pagi ini adalah sebagai berikut:

  1. Gratis dan Menyebar. Pola bisnis di internet mengarahkan kepada semua gratis, ada juga berupa layanan donasi atau jika ingin lebih, maka ada proses selanjutnya, yaitu jualan. Memiliki content yang bagus dan ada dimana-mana, tidak berpegangan hanya pada website saja, melainkan di social media, forum, portal dan platform lainnya yang bertujuan agar konsumen dapat meraihnya dengan mudah.
  2. Efisien dan Tahan Lama. Produktifitas di internet tidak banyak memerlukan banyak biaya, hanya memerlukan hosting dan domain name untuk meletakkan produk atau jasa lainnya pada dunia maya. Sedangkan datanya seperti video bisa diletakkan di YouTube / Vimeo / Google Video, pada gambar dapat menggunakan fasilitas Flickr / Picasa, dalam bentuk Word/PDF dapat diletakkan di Slideshare / Google Docs (semua serba Clouds system), seperti pada tulisan sebelumya tentang IMC Online, dan selamanya akan ada di internet, tidak akan pernah usang, kotor ataupun hilang. Dan secara otomatis dengan adanya internet akan memangkas biaya produksi, distribusi dan promosi.
  3. Barang Langka. Buku/Novel/sejenisnya suatu saat nanti akan menjadi barang yang langka, maka jaga dan rawat buku/novel/sejenisnya yang Anda sudah milik sekarang dengan baik-baik karena buku / novel / sejenisnya akan mengarah ke digital.
  4. Unik dan Fresh. Para pengarang harus memiliki ide cerita yang unik, imaginatif dan juga tentunya fresh karena setiap orang dapat menulis, mengekspresikan bakatnya melalui internet dan dapat mempromosikan dirinya sendiri melalui internet tanpa harus melalui penerbit.
  5. Kampanye Global Warming. Dengan gerakan Green kepada seluruh dunia untuk menyelamatkan dunia dari Global Warming, maka perusahaan yang berhubungan dengan bahan bakunya yang menggunakan kertas, harus lebih sigap menangani perubahan ini. Jika tidak mengambil langkah-langkah strategies maka akan menggangu proses pertumbuhan bisnisnya.

Mungkin itu saja yang ada dipikiran saat ini, jika ada pemikiran tentang hal ini akan segera di update atau Anda mempunyai pemikiran yang berbeda, share dengan kami.

17
Feb

Siapkah Perusahaan Anda Menggunakan Social Media?

Apa yang menyebabkan suatu perusahaan ragu – ragu untuk mengkomunikasikan produknya kedalam media online?. Oke, kita ilustrasikan sebagai berikut; suatu perusahaan besar/pemilik brand adalah seorang Ibu yang mempunyai seorang anak (produk) dengan nama yang unik (brand). Ibu mengerti sekali bagaimana merawat dan membesarkan anaknya dengan memperlakukan dengan cara yang berbeda, hal tersebut dilakukan karena anak2nya (brand differentiation) memiliki sifat yang beda (targeting). Ketika anak ini sudah menginjak remaja, seorang Ibu akan menyekolahkannya (menyewa brand konsultan), setelah anak ini beranjak dewasa, mereka telah siap untuk diuji ke dalam masyarakat (market) dan seterusnya.

Dalam konteks diatas menerangkan bahwa suatu perusahaan akan selalu menggunakan kekuatannya untuk membuat brand tersebut tetap terjaga dan terawat dengan baik. Untuk menjaga dan merawat brand tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit, karena menggunakan media offline, seperti media cetak, outdoor dan juga elektronik. Apalagi jika menerapkan Integrated Marketing Communication (IMC) yang semua lini dari hulu ke hilir digunakan. Hal ini menyebabkan pembengkakkan pada biaya yang dikeluarkan.

Dengan bertahun-tahun selalu menggunakan media offline, para pemilik brand tidak cepat merespon perkembangan yang terjadi, sedangkan perilaku konsumen selalu berubah setiap tahunnya. Apalagi dengan perkembangan media internet yang menghadirkan perilaku yang baru dengan adanya social media.

Apa yang menyebabkan perusahaan tidak mengambil kesempatan menggunakan social media, ada beberapa hal kecenderungan itu terjadi, disebabkan:

  1. Anda (perusahaan) masih nyaman dengan media offline, jelas prosesnya, mengetahui biaya yang dikeluarkan serta dapat mengetahui dampak dari media ini untuk penjualannya;
  2. Anda berasumsi bahwa media internet hanya sebatas pelengkap yang sama dengan media-media lainnya, perbedaannya hanya media ini bersifat online;
  3. Anda menyadari ada perubahan perilaku konsumen bahwa social media sudah masuk kedalam kehidupan sehari-hari, seperti chat, update status, upload foto dan lain-lain, tetapi hal tersebut hanya dipahami sebatas trend sesaat;
  4. Anda mengetahui adanya social media, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi pada social media. Komunitas tersebut sudah ada dan yang Anda lakukan hanya bisa mengarahkan, mempengaruhi dan mendukung komunitas tersebut;
  5. Anda mungkin dengan mudahnya dapat mengeluarkan power untuk menciptakan komunitas baru, tetapi Anda tidak memikirkan bagaimana merawat selanjutnya. Yang harus dipahami adalah bahwa Anda tidak bisa menciptakan komunitas baru dengan cepat karena membangun komunitas memerlukan proses waktu dan tenaga;
  6. Anda tidak dapat mengontrol mereka, mereka bebas bersuara, tidak ada aturan main didalamnya, mereka sendiri yang menciptakan aturan tersebut, tetapi yang bisa Anda lakukan adalah berkomunikasi dan merespon mereka dengan cepat.
  7. Anda tidak dapat memaksa mereka menelan mentah-mentah pesan Anda, seperti halnya yang telah Anda sering lakukan oada media offline (komunikasi satu arah), karena perubahan di media internet sudah menggunakan teknologi web 2.0 (komunikasi 2 arah);
  8. Anda hanya bisa mendengarkan, belajar dari perilaku mereka dan mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan inginkan, seperti tips dan trik: Mencari Customer Insight via Twitter.

Sebelum terjun ke media online, yang harus Anda persiapkan adalah sumber daya manusia serta strategi yang selalu diupdate supaya tidak hilang begitu saja. Contoh sukses dalam memanfaatkan teknologi web 2.0 ini adalah Dell dan Starbuck. Dell menciptakan komunikasi 2 arah untuk mencari insight dan berkomunikasi langsung dengan konsumen yang melahirkan IdeaStorm. Sedangkan Starbuck menciptakan strategi komunikasi 2 arah ini dengan menggabungkan media offline dan online dalam merawat brandnya dengan strategi marketing onlinenya dengan menciptkan My Starbuck Idea. Coca Cola pun juga ikut berpartisipasi, check presentasi ini, Coca-Cola: ‘Fans First’ Approach in Social Communities. Begitu juga dengan BurgerKing menggunakan social media, seperti YouTube, Facebook dan Website. Oke, selanjutnya kembali ke perusahaan Anda, apakah perusahaan Anda siap untuk hadir di social media? Tidak salah mencoba daripada tidak sama sekali :)

Ada opini lain? Share with us.

16
Feb

Mencari customer insight via Twitter

Dalam mencari customer insight yang biasa kita gunakan adalah melalui pendekatan research Quantitative dan Qualitative berdasarkan data, ada juga dengan pendekatan secara perilaku konsumen setiap harinya dengan menggunakan metode Ethnography dan Netnography. Mencari insight menggunakan metode Ethnography dan Netnography sangatlah unik dan sangat menyenangkan, research ini mengkolaborasikan hasil data dengan persepsi, perilaku dan kebiasaan konsumen setiap harinya. Ilmu tentang Ethnography ini saya pernah dapati sewaktu kuliah S2 di Binus Business School oleh Pakar Ethnography di Indonesia, Amalia Maulana. Sedangkan pada Netnography mencari customer insight menggunakan media internet.

Sebelum mengarah ke objek pembahasan, sebelumnya kami menjelaskan dengan singkat tentang microblogging terlebih dahulu. Microblogging sama halnya dengan penggunaan short message service (SMS), tetapi microblogging ini hanya ada di Internet, bebas biaya dan setiap orang dapat melihatnya. Twitter merupakan microblogging yang sangat populer sekarang ini. Penggunaan Twitter di Indonesia sangatlah berbeda dengan penggunaan Twitter di luar Indonesia. Twitter di luar Indonesia digunakan sebagai sharing informasi secara real time, informasi tersebut bisa berupa berita yang update, issue yang terjadi, teknologi yang sedang berkembang dan lain-lain yang disampaikan melalui 140 karakter. Sedangkan penggunaan Twitter di Indonesia hanya sebatas status update yang sama hal dengan status yang ada di Facebook.

Banyak hal – hal yang tidak penting dituangkan kedalam status update pada Twitter, dari kebiasaan, memberikan informasi, curhat, gosip dan lain-lain (campur aduk). Hal tersebut dapat kita manfaatkan untuk mencari customer insight menggunakan media tools ini. Yang terpenting dalam mencari customer insight melalui media tools ini adalah apa-apa saja yang ingin diambil dan diolah dari data yang akan dicari, misal; mencari persepsi konsumen tentang product dengan brand A, atau mencari brand awareness saja, atau mencari tahu perilaku atau kebiasaan konsumen dan lain-lain (tentukan objectivenya).

Twitter Search adalah suatu tools untuk mencari kata kunci secara real time, Dibawah ini hasil pencarian dengan kata kunci  Indomie dengan menggunakan fasilitas tersebut. (penggunaan brand Indomie hanya untuk sample).

Sedangkan jika menggunakan fasilitas Google Search, akan menghasilkan pendekatan yang berbeda, seperti contoh dibawah ini.

Dari contoh diatas, terlihat bahwa Twitter sangat powerful dibandingkan dengan mencari insight di Google Search, tetapi tidak menutup kemungkinan Google Search juga bermanfaat. Oke, kita kembali ke topic, cara mencari insight menggunakan Twitter adalah, mengumpulkan opini dari users, sesudah mendapatkan opini dari users, selanjutnya dikumpulkan terlebih dahulu dan selanjutnya diklasifikasikan menjadi beberapa kategori. Setiap kategori dikelompokkan lagi menjadi 2 kategori plus minus, yaitu Advantages dan Disadvantages. Setelah mengetahui plus dan minusnya, analisis juga competitornya dari indirect dan direct competitor, sesuaikan dengan strategi marketingnya, hubungkan dengan brand activation, kolaborasikan dengan media offline dan online, dan lain-lain.

Dibawah ini hanya beberapa sample dari custumer insight pada Indomie;
@adisthiew: indomie goreng pedas telor sosis goreng tabur keju cabe rawit.. sadisnya dirimu menari nari diotakku –> ada peluang untuk membuat Indomie dengan aneka rasa pedas dengan bahan yang alami seperti cabe
@IndraPrananda: Sarapan pake indomie kari ayam plus telor, maknyozzzz :) ) –> sarapan dengan Indomie (perilaku konsumen)
@PrissyWaworuntu: Terbangun karna harumnya indomie goreng,, tambah nikmat karna dimasakin suami tercinta –> persepsi konsumen
@sipirilla: Ya Tuhan, bau indomie goreng sama indomie kuah itu benar-benar menggoyahkan iman saya –> ini mah lebay ya :)

Mungkin diatas dapat membantu, jika ada yang kurang jelas akan disambung diepisode selanjutnya, cause it’s time to work!. Ciayoo :)

11
Feb

Skittles: Menerapkan IMC Online

Sore-sore  menjelang malam, kami menemukan sample penerapan Integrated Marketing Communication (IMC) online, yaitu Skittles, permen warna warni. Apakah Anda pernah mencobanya atau mengetahui product tersebut?. Mari kita lihat penerapan IMC yang dilakukan oleh Skittles.

Pertama, kita melakukan pencarian dengan menggunakan Google search engine, dan ternyata penggunakan dengan kata kunci ’skittles’, wow banyak sekali terkoneksinya.

Kedua, kita memasuki official websitenya, seperti apakah gerangan?. Ternyata websitenya hanya single page, scroll down.. scroll down… dan scroll down..

Ketiga, kita memasuki wilayah social media: Facebook. Didalam Facebook, Skittles membuat aplikasi yang engagement walaupun hanya sebatas memfasilitasikan fitur comment, but it’s great!

selain iklan yang engagement, Skittles memaksimalkan fitur yang ada di Facebook, yaitu Menu Discussion untuk mencari insight terhadap product ini.

Keempat, kita mencari tahu apakah di YouTube product Skittles ini ada? Aha, video yang ada di YouTube sama dengan yang ada di Facebook Video, terkoneksi dengan baik.

Kelima, kita memasuki wilayah realtime update, yaitu Twitter. Skittles is there!, tetapi sepertinya kurang terupdate dengan baik.

Keenam, karena dimana-dimana terlihat banyak gambar. Apakah gambar – gambar tersebut yang berhubungan dengan Skittles ada di Flickr? Ternyata gambar-gambar ini selalu menggunakan nama file gambar menggunakan kata ‘Skittles’.

Ketujuh, Skittles juga menggunakan Wikipedia sebagai informasi tentang productnya.

Diatas adalah beberapa contoh penggunaan IMC online yang dilakukan oleh Skittles. Hal ini tidak luput dari pesan yang ingin disampaikan, karena jika melihat secara keseluruhan, dari tone manner hingga konsepnya terlihat jelas, rapi dan tersusun.

Bagaimana dengan perusahaan Anda, apakah sudah terintegrasi dan memaksimalkan brand dengan social media? Jika belum, tidak ada salahnya untuk mencoba, jika sudah jangan lupa untuk mengupdatenya.

11
Feb

Google Buzz: Inovasi atau Market Share?

Google Buzz adalah layanan jejaring sosial yang hampir mirip dengan Twitter, tool ini bukan merupakan suatu inovasi melainkan hanya membuat product differentiation dari product Google. Meroketnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang tiap harinya terus meningkat dalam jumlah yang bergabung dalam sosial tersebut, maka Google merasakan bahwa kekuatan pasarnya terganggu. Dalam kurun hanya hitungan bulan, Google mengeluarkan berbagai tools yang sampai saat ini masih belum terasa impactnya, salah satu product Google adalah Google Wave, yang mempunyai fitur mengintegrasikan dan mengkolaborasikan komunikasi secara realtime.

Konsep strategi Google berbeda dengan Apple yang menetrasi pasar dengan cara terbuka terhadap productnya yang kita dapat dengan mudah mengenali product dari Google. Jikalau ada third party, pastinya sudah diakuisisi oleh Google, seperti Picasa untuk share images, YouTube untuk share videos dan RSS Feed seperti Feedburner sudah menjadi bagian dari Google Feed. Sebelum Feedburner ini diakuisisi oleh Google, Google mengeluarkan product untuk RSS Feed, yaitu Google Reader, tetapi peminatnya kurang dan untuk mengakses Google Reader ini hanya untuk yang mempunyai account Google (lock in). Sedangkan setiap pemain blog memiliki tool untuk RSS Feed menggunakan Feedburner dikarenakan mudah dalam mengoperasikannya, oleh sebab itu Feedburner ini sekarang sudah dimiliki oleh Google. Dengan contoh yang dijelaskan diatas terbukti bahwa Google ingin menguasai semua lini di dunia maya.
Question: Bagaimana strategi Google Reader selanjutnya dengan adanya Feedburner?

Tak kalah hebatnya, semua lini teknologi Google ingin ikut bergabung meramaikannya dengan hadirnya sistem operasi Android dengan merangkul vendor smartphone sebagai uji coba pada OS Android pada smartphone. Setelah berhasil menggandeng vendor smartphone tersebut, lahirlah product pertama Google untuk smartphone yang dikenal dengan Nexus One.
Question: Akankan Nexus One bisa mengalahkan market share Blackberry atau iPhone?

Kalau melihat pergerakan dari product – product yang dikeluarkan secara beruntun ini yang dapat dipantau melalui Google Labs dari Google Blog. Google merasa kagum dengan Facebook yang mempunyai market share social media yang besar. Sedangkan Google lebih tertarik dengan konsep Twitter yang hanya mengirimkan pesan melalui 140 karakter seperti halnya SMS (short message service). Mengapa Google tertarik?, karena konsep Twitter ini sejalan dengan konsepnya Google yang ingin menciptakan Real-Time Search, oleh sebab itu terciptalah Google Buzz. Dari gerak gerik Google tersebut terlihat selain ingin mendapatkan market share dalam social media, Google juga sedang mempersiapkan amunisinya untuk mewujudkan impiannya di dunia maya, sebagai penguasa dalam search engine dengan mengusungkan real time search engine.
Question: Apakah dengan hadirnya Google Buzz akan menggantikan peran Twitter?

Download ‘Perbandingan fitur Facebook, Twitter dan Google Buzz’ via SlideShare

10
Feb

Prediksi Dunia Online pada 2010

Apakah yang akan berkembang pada dunia online pada tahun 2010? Jika dilihat dari perkembangan dunia online pada tahun sebelumnya hingga saat ini telah terjadi perubahan yang sangat cepat, terutama pada ruang lingkup social networking yang memfasilitasikan pada social media. Persaingan dunia online pada social media mencapai titik puncak (stagnant) dan sebagai pemenangnya adalah Facebook dan Twitter, walaupun banyak rupa pada social media, tetapi engine atau konsep yang digunakan sama dengan Facebook ataupun Twitter, yaitu mempromosikan pribadi/organisasi/perusahaan ke khalayak orang banyak.

Perubahan ini yang menjadikan perilaku konsumen online berubah (shifting) dari personal hingga berbaur dengan yang lain. Hal ini berhubungan dengan teori Abraham Maslow, yaitu pada tingkat ketiga pada teori tersebut adalah social & belonging. Hal ini menyebabkan mau tidak mau konsumen harus mengikuti trend tersebut dan menjadikan hal tersebut suatu kebiasaan dan gaya hidup (lifestyle). Dibawah ini adalah analysis dan prediksi yang kami rangkum dalam 3 kategori besar, antara lain:

Perilaku Konsumen Online

Hardware & Software

Prediksi 2010