Posts Tagged ‘twitter’

11
Jun

Threadless: Seni Berjualan via Facebook

Terkadang sangat menjengkelkan saat membuka Facebook terdapat bermacam-macam barang dagangan yang memenuhi wall kita. Seni berjualan di Facebook yang saya sering lihat adalah mengupload barang jualannya dan men-tag ke relasi teman-teman yang bertujuan jika berminat langsung dapat memesan. Dan ada juga memberikan message yang didalamnya informasi tentang product yang dijual. Teknik semacam ini memang paling mudah diterapkan, tetapi sangat menjengkelkan bagi sebagian orang. Bagaimana menjual di Facebook dengan lebih elegan dalam mempromosikan product-nya?

Threadless adalah salah satu contoh dari sekian banyak seni berjualan di Facebook yang elegan dengan mengintegrasikan fasilitas gratis (free) untuk mempromosikan productnya. Seperti apakah fasilitas gratis (free) tersebut? RSS Feed dan Email Newsletter dari Google Feedbuner, Twitter, Flickr, MySpace, dan lain-lain.

Website:

Facebook:

Facebook Apps (New Teest):

Flickr:

Twitter:

RSS Feed dari Google Feedburner:

MySpace:

Kesimpulan dari contoh seni berjualan ala Threadless ini adalah:

  1. Mengoptimalkan dan mengintegrasikan informasi via website hingga social media (free) supaya product ada dimana-mana (hukum Google: menyebar).
  2. Meng-update dan me-maintenance social media tersebut untuk selalu tetap eksis, hal ini bertujuan agar pencarian dalam search engine dapat maksimal.
  3. Berkomunikasi dan berinteraksi antara brand dan konsumen untuk dapat memahami dan mengetahui insight dari perilaku konsumen terhadap product tersebut.
  4. Buatlah online campaign yang elegan dalam mengkomunikasikannya (menggabungkan unsur teknologi, art dan branding untuk pencapaian hasil maksimal)
  5. Selain mengoptimalkan fasilitas yang gratis ini dibutuhkan sumber daya manusia untuk selalu membuat program atau campaign yang selalu berubah agar tidak membosankan dan selalu menampilkan sesuatu yang baru (fresh). Sering sekali ditemukan campaign online dilakukan hanya per 3 bulan aktif dan selanjutnya tidak pernah ada lagi. Sedangkan investasi di online tidak diukur dengan bagusnya online campaign saja pada saat lauching, tetapi karena keberadaan yang menjadikan online branding semakin kuat.

Bagaimana menurut teman-teman ada yang penambahan point dari kesimpulan ini, share with us.
Thanks to Rahman Kuncoro for the inspirations.

9
Apr

Gunakan Social Media Anda Secara Maksimal

Apa sajakah Social Media yang Anda miliki? Apakah Anda selalu menggunakannya setiap harinya? pertanyaan ini mungkin sangatlah tidak penting, tetapi jika Anda terjun didalam bisnis online, apakah itu sebuah korporasi / organisasi / perorangan, sudah saatnya perlahan-lahan memahami dunia internet yang kian menjadi sebuah kebutuhan setiap harinya. Karena semakin Anda memperkenalkan diri secara personal / korporasi / organisasi di internet semakin Anda terhubung satu dengan yang lainnya untuk pencapaian aktualisasi diri (Hukum Maslow) pada dunia maya. Aktualisasi diri pada dunia maya lebih cepat menyebar dan tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, sangat murah loh.

Memiliki social media seperti Facebook atau Twitter, bukan semata-mata hanya sebatas trend sesaat (latah) ataupun ingin selalu eksis didunia maya, tetapi jika dikelola, diupdate dan dipelihara dengan baik  akan memperkuat brand personal  / korporasi / organisasi Anda dapat diketahui oleh banyak orang. Pemeliharan brand ini yang biasanya kurang dipahami oleh sebagian banyak orang / korporasi / organisasi.

Pemilihan social media pun disesuaikan dengan kebutuhan Anda, sebagai contoh Anda adalah seorang Photographer, yang Anda harus lakukan adalah memiliki sebuah Website (wajib), Blog sebagai bentuk pengekspresian diri melalui tulisan, Facebook sebagai penghubung dengan fans Anda, Twitter sebagai real time update tentang ruang lingkup dunia photographer, Flickr sebagai tempat penyimpanan portfolio Anda, YouTube  sebagai tempat untuk memberikan inspirasi kepada photographer yang lain dalam pemotretan dalam bentuk video (behind the scene) dan lain-lain.

Dalam pemilihan social mediapun harus tetap memilih apa yang paling relevan dengan kebutuhan Anda, misalnya untuk tempat penyimpanan portfolio, Anda dapat menggunakan Flickr / Picasa / deviantART (komunitas visual) / ImageShack / Photobucket atau yang lainnya. Sedangkan untuk tempat penyimpanan dalam bentuk video dapat menggunakan YouTube (streamingnya lebih cepat), Vimeo (khusus untuk komunitas motion graphic), Video Google (terseleksi dengan Google Search) dan lain-lain. Pemilihan dalam social media ini dapat juga sebagai sebuah karakter yang Anda kemas dalam dunia online. Jadikan Anda menjadi sebuah organisasi yang elegan (hukum Facebook).

Setelah Anda sudah memilih social media, langkah selanjutnya adalah dengan memberikan secara real time update menggunakan Twitter untuk dapat memberikan informasi berupa pencerahan, issue, teknik, tips & trick dan lain-lain kepada orang lain dan sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan Anda. Dan juga jika memiliki Facebook digunakan secara lebih personal kepada fans-fans Anda, memberikan mereka perhatian dengan berkomunikasi, memberikan solusi, pendapat / opini dan lain-lain.

Jika hal tersebut Anda sudah lakukan, hal yang tidak kalah pentingnya adalah memelihara / menjaganya dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya memiliki social media, tetapi tidak dipergunakan sama sekali. Memelihara / menjaga inilah yang membutuhkan kesabaran dan waktu, karena membangun brand personal / korporasi / organisasi membutuhkan waktu. Social media adalah bentuk komunikasi 2 arah yang banyak manfaatnya, setiap social media memiliki kemampuan yang sangat potensial jika digunakan secara efektif, terarah dan tidak memakan biaya sedikitpun.

So, integrasikan website, blog dan social media Anda secara maksimalkan sehingga dapat menyebar dimana-mana (hukum Google: everywhere) yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bagaimana dengan Anda? ada opini lain? Share with us.

17
Mar

Tw2buzz: Import Friendlist Twitter ke Google Buzz

Dikarenakan sudah nyaman dengan Twitter, biasanya jarang sekali membuat account baru di Google Buzz. Google Buzz sampai saat ini masih belum maksimal dipergunakan dibandingkan dengan Twitter yang sudah menjadi keharusan bagi setiap orang untuk memiliki account di Twitter seperti layaknya tempo hari harus memiliki account di Facebook. Mengapa enggan membuat account baru di Google Buzz? karena masih belum banyak orang yang menggunakan, kesulitan dalam mengenali dan menggunakannya, harus mencari dan memilih teman lagi dan lain sebagainya. Nah, oleh karena itu dibutuhkan aplikasi yang mempermudah untuk mendapatkan teman salah satunya yaitu dengan cara mengimport friendlist yang ada di Twitter kedalam Google Buzz. Tetapi bagaimana caranya? dan seperti apakah aplikasi tersebut?

Tw2buzz adalah web aplikasi yang mempermudah mengimport friendlist di Twitter ke Google Buzz. Karena web aplikasi ini masih beta, maka untuk menggunakannya  me-request terlebih dahulu dengan memasukkan alamat email dan setelah itu tunggu beberapa hari untuk di approve oleh Tw2buzz Developernya. Selain itu, tw2buzz juga akan mengeluarkan fb2buzz (Facebook to Buzz) dan ff2buzz (FriendFeed to Buzz).

11
Mar

MentionMap: Siapakah Network Twitter Anda?

Sambil menunggu makan malam sambil browsing dari satu web ke web lainnya dan ke web lainnya lagi, hingga menemukan satu web yang bernama MentionMap. Web ini menampilkan siapa saja yang ada dalam network Twitter Anda, penggunaannya sangat mudah, hanya memasukkan username Twitter Anda, and then kaboom. Dengan adanya web ini, dapat mengenali jalur-jalur network yang terhubung dengan account Twitter Anda.

Twitter adalah sebuah jaringan sosial dengan layanan Microblogging yang memungkinkan pengguna menggunakan pesan teks singkat dengan panjang maksimal 140 karakter.

Hal ini dapat mempengaruhi brand online di search engine terutama di social media khususnya Twitter ini, walaupun hanya sebatas Re-Tweet ataupun memberikan informasi yang bermanfaat dalam konteks yang berhubungan dengan kesukaan/hobby atau yang berhubungan dengan kerjaan di kantor atau hanya memberikan komentar. Twitter hanya sebuah tool, dimana untuk mendapatkan informasi secara realtime dari berbagai expertise hingga blogger diseluruh dunia dalam 1 halaman website (Twitter Timeline).

Kebiasaan yang sering saya lakukan ketika surfing adalah mencari sebuah blog yang berhubungan dengan art, teknologi hingga social media, setelah itu mencari RSS Feed untuk mendapatkan berita/informasi dari blog tersebut untuk secara langsung jika blog tersebut update maka langsung terkirim kedalam email saya, dan tidak lupa untuk following blog tersebut melalui account Twitter blog tersebut. Jadi kita dapat mengetahui informasi tersebut melalui email dan jikalau sedang membuka Twitter, kita juga dapat mengetahui pembicaraan apa saja atau Re-Tweet dari mana saja dan apa saja yang mereka bicarakan.

Makan malam telah tiba, so, kesimpulannya adalah tentukan dan pilihlah network untuk Twitter Anda, agar dapat mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam seketika. Selamat mencoba.

16
Feb

Mencari customer insight via Twitter

Dalam mencari customer insight yang biasa kita gunakan adalah melalui pendekatan research Quantitative dan Qualitative berdasarkan data, ada juga dengan pendekatan secara perilaku konsumen setiap harinya dengan menggunakan metode Ethnography dan Netnography. Mencari insight menggunakan metode Ethnography dan Netnography sangatlah unik dan sangat menyenangkan, research ini mengkolaborasikan hasil data dengan persepsi, perilaku dan kebiasaan konsumen setiap harinya. Ilmu tentang Ethnography ini saya pernah dapati sewaktu kuliah S2 di Binus Business School oleh Pakar Ethnography di Indonesia, Amalia Maulana. Sedangkan pada Netnography mencari customer insight menggunakan media internet.

Sebelum mengarah ke objek pembahasan, sebelumnya kami menjelaskan dengan singkat tentang microblogging terlebih dahulu. Microblogging sama halnya dengan penggunaan short message service (SMS), tetapi microblogging ini hanya ada di Internet, bebas biaya dan setiap orang dapat melihatnya. Twitter merupakan microblogging yang sangat populer sekarang ini. Penggunaan Twitter di Indonesia sangatlah berbeda dengan penggunaan Twitter di luar Indonesia. Twitter di luar Indonesia digunakan sebagai sharing informasi secara real time, informasi tersebut bisa berupa berita yang update, issue yang terjadi, teknologi yang sedang berkembang dan lain-lain yang disampaikan melalui 140 karakter. Sedangkan penggunaan Twitter di Indonesia hanya sebatas status update yang sama hal dengan status yang ada di Facebook.

Banyak hal – hal yang tidak penting dituangkan kedalam status update pada Twitter, dari kebiasaan, memberikan informasi, curhat, gosip dan lain-lain (campur aduk). Hal tersebut dapat kita manfaatkan untuk mencari customer insight menggunakan media tools ini. Yang terpenting dalam mencari customer insight melalui media tools ini adalah apa-apa saja yang ingin diambil dan diolah dari data yang akan dicari, misal; mencari persepsi konsumen tentang product dengan brand A, atau mencari brand awareness saja, atau mencari tahu perilaku atau kebiasaan konsumen dan lain-lain (tentukan objectivenya).

Twitter Search adalah suatu tools untuk mencari kata kunci secara real time, Dibawah ini hasil pencarian dengan kata kunci  Indomie dengan menggunakan fasilitas tersebut. (penggunaan brand Indomie hanya untuk sample).

Sedangkan jika menggunakan fasilitas Google Search, akan menghasilkan pendekatan yang berbeda, seperti contoh dibawah ini.

Dari contoh diatas, terlihat bahwa Twitter sangat powerful dibandingkan dengan mencari insight di Google Search, tetapi tidak menutup kemungkinan Google Search juga bermanfaat. Oke, kita kembali ke topic, cara mencari insight menggunakan Twitter adalah, mengumpulkan opini dari users, sesudah mendapatkan opini dari users, selanjutnya dikumpulkan terlebih dahulu dan selanjutnya diklasifikasikan menjadi beberapa kategori. Setiap kategori dikelompokkan lagi menjadi 2 kategori plus minus, yaitu Advantages dan Disadvantages. Setelah mengetahui plus dan minusnya, analisis juga competitornya dari indirect dan direct competitor, sesuaikan dengan strategi marketingnya, hubungkan dengan brand activation, kolaborasikan dengan media offline dan online, dan lain-lain.

Dibawah ini hanya beberapa sample dari custumer insight pada Indomie;
@adisthiew: indomie goreng pedas telor sosis goreng tabur keju cabe rawit.. sadisnya dirimu menari nari diotakku –> ada peluang untuk membuat Indomie dengan aneka rasa pedas dengan bahan yang alami seperti cabe
@IndraPrananda: Sarapan pake indomie kari ayam plus telor, maknyozzzz :) ) –> sarapan dengan Indomie (perilaku konsumen)
@PrissyWaworuntu: Terbangun karna harumnya indomie goreng,, tambah nikmat karna dimasakin suami tercinta –> persepsi konsumen
@sipirilla: Ya Tuhan, bau indomie goreng sama indomie kuah itu benar-benar menggoyahkan iman saya –> ini mah lebay ya :)

Mungkin diatas dapat membantu, jika ada yang kurang jelas akan disambung diepisode selanjutnya, cause it’s time to work!. Ciayoo :)

15
Feb

Integrasikan Twitter, Facebook dan Buzz di Gmail

Pernahkah Anda mengalami situasi seperti ini; pindah tab dibrowser hanya untuk melihat status Facebook, pindah tab lagi untuk melihat status Twitter, pindah tab lagi untuk melihat email. Hal tersebut sering terjadi bukan?. Bagaimana jika Facebook, Twitter dan Buzz digabung menjadi satu tampilan saja. Solusinya sangat mudah untuk membuat Gmail Anda terintegrasi dengan social media. Langkah mudahnya dapat dijelaskan dibawah ini:

1. Klik Setting pada Gmail Anda

2. Klik Labs

3. Klik Enable pada Add any gadget by URL

4. Klik Gadgets

5. Masukan code dibawah ini dan klik tombol Add

Sesudah dimasukkan satu persatu, maka akan seperti dibawah ini

6. Masukan username dan password dari account Twitter dan Facebook yang sudah dibuat, lihat samping kiri.

7. Selesai, Nicely Done! :)

Facebook (preview)

Twitter (preview)

Selamat mencoba :)

11
Feb

Skittles: Menerapkan IMC Online

Sore-sore  menjelang malam, kami menemukan sample penerapan Integrated Marketing Communication (IMC) online, yaitu Skittles, permen warna warni. Apakah Anda pernah mencobanya atau mengetahui product tersebut?. Mari kita lihat penerapan IMC yang dilakukan oleh Skittles.

Pertama, kita melakukan pencarian dengan menggunakan Google search engine, dan ternyata penggunakan dengan kata kunci ’skittles’, wow banyak sekali terkoneksinya.

Kedua, kita memasuki official websitenya, seperti apakah gerangan?. Ternyata websitenya hanya single page, scroll down.. scroll down… dan scroll down..

Ketiga, kita memasuki wilayah social media: Facebook. Didalam Facebook, Skittles membuat aplikasi yang engagement walaupun hanya sebatas memfasilitasikan fitur comment, but it’s great!

selain iklan yang engagement, Skittles memaksimalkan fitur yang ada di Facebook, yaitu Menu Discussion untuk mencari insight terhadap product ini.

Keempat, kita mencari tahu apakah di YouTube product Skittles ini ada? Aha, video yang ada di YouTube sama dengan yang ada di Facebook Video, terkoneksi dengan baik.

Kelima, kita memasuki wilayah realtime update, yaitu Twitter. Skittles is there!, tetapi sepertinya kurang terupdate dengan baik.

Keenam, karena dimana-dimana terlihat banyak gambar. Apakah gambar – gambar tersebut yang berhubungan dengan Skittles ada di Flickr? Ternyata gambar-gambar ini selalu menggunakan nama file gambar menggunakan kata ‘Skittles’.

Ketujuh, Skittles juga menggunakan Wikipedia sebagai informasi tentang productnya.

Diatas adalah beberapa contoh penggunaan IMC online yang dilakukan oleh Skittles. Hal ini tidak luput dari pesan yang ingin disampaikan, karena jika melihat secara keseluruhan, dari tone manner hingga konsepnya terlihat jelas, rapi dan tersusun.

Bagaimana dengan perusahaan Anda, apakah sudah terintegrasi dan memaksimalkan brand dengan social media? Jika belum, tidak ada salahnya untuk mencoba, jika sudah jangan lupa untuk mengupdatenya.

11
Feb

Google Buzz: Inovasi atau Market Share?

Google Buzz adalah layanan jejaring sosial yang hampir mirip dengan Twitter, tool ini bukan merupakan suatu inovasi melainkan hanya membuat product differentiation dari product Google. Meroketnya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter yang tiap harinya terus meningkat dalam jumlah yang bergabung dalam sosial tersebut, maka Google merasakan bahwa kekuatan pasarnya terganggu. Dalam kurun hanya hitungan bulan, Google mengeluarkan berbagai tools yang sampai saat ini masih belum terasa impactnya, salah satu product Google adalah Google Wave, yang mempunyai fitur mengintegrasikan dan mengkolaborasikan komunikasi secara realtime.

Konsep strategi Google berbeda dengan Apple yang menetrasi pasar dengan cara terbuka terhadap productnya yang kita dapat dengan mudah mengenali product dari Google. Jikalau ada third party, pastinya sudah diakuisisi oleh Google, seperti Picasa untuk share images, YouTube untuk share videos dan RSS Feed seperti Feedburner sudah menjadi bagian dari Google Feed. Sebelum Feedburner ini diakuisisi oleh Google, Google mengeluarkan product untuk RSS Feed, yaitu Google Reader, tetapi peminatnya kurang dan untuk mengakses Google Reader ini hanya untuk yang mempunyai account Google (lock in). Sedangkan setiap pemain blog memiliki tool untuk RSS Feed menggunakan Feedburner dikarenakan mudah dalam mengoperasikannya, oleh sebab itu Feedburner ini sekarang sudah dimiliki oleh Google. Dengan contoh yang dijelaskan diatas terbukti bahwa Google ingin menguasai semua lini di dunia maya.
Question: Bagaimana strategi Google Reader selanjutnya dengan adanya Feedburner?

Tak kalah hebatnya, semua lini teknologi Google ingin ikut bergabung meramaikannya dengan hadirnya sistem operasi Android dengan merangkul vendor smartphone sebagai uji coba pada OS Android pada smartphone. Setelah berhasil menggandeng vendor smartphone tersebut, lahirlah product pertama Google untuk smartphone yang dikenal dengan Nexus One.
Question: Akankan Nexus One bisa mengalahkan market share Blackberry atau iPhone?

Kalau melihat pergerakan dari product – product yang dikeluarkan secara beruntun ini yang dapat dipantau melalui Google Labs dari Google Blog. Google merasa kagum dengan Facebook yang mempunyai market share social media yang besar. Sedangkan Google lebih tertarik dengan konsep Twitter yang hanya mengirimkan pesan melalui 140 karakter seperti halnya SMS (short message service). Mengapa Google tertarik?, karena konsep Twitter ini sejalan dengan konsepnya Google yang ingin menciptakan Real-Time Search, oleh sebab itu terciptalah Google Buzz. Dari gerak gerik Google tersebut terlihat selain ingin mendapatkan market share dalam social media, Google juga sedang mempersiapkan amunisinya untuk mewujudkan impiannya di dunia maya, sebagai penguasa dalam search engine dengan mengusungkan real time search engine.
Question: Apakah dengan hadirnya Google Buzz akan menggantikan peran Twitter?

Download ‘Perbandingan fitur Facebook, Twitter dan Google Buzz’ via SlideShare

10
Feb

Prediksi Dunia Online pada 2010

Apakah yang akan berkembang pada dunia online pada tahun 2010? Jika dilihat dari perkembangan dunia online pada tahun sebelumnya hingga saat ini telah terjadi perubahan yang sangat cepat, terutama pada ruang lingkup social networking yang memfasilitasikan pada social media. Persaingan dunia online pada social media mencapai titik puncak (stagnant) dan sebagai pemenangnya adalah Facebook dan Twitter, walaupun banyak rupa pada social media, tetapi engine atau konsep yang digunakan sama dengan Facebook ataupun Twitter, yaitu mempromosikan pribadi/organisasi/perusahaan ke khalayak orang banyak.

Perubahan ini yang menjadikan perilaku konsumen online berubah (shifting) dari personal hingga berbaur dengan yang lain. Hal ini berhubungan dengan teori Abraham Maslow, yaitu pada tingkat ketiga pada teori tersebut adalah social & belonging. Hal ini menyebabkan mau tidak mau konsumen harus mengikuti trend tersebut dan menjadikan hal tersebut suatu kebiasaan dan gaya hidup (lifestyle). Dibawah ini adalah analysis dan prediksi yang kami rangkum dalam 3 kategori besar, antara lain:

Perilaku Konsumen Online

Hardware & Software

Prediksi 2010